Beranda Opini

Aku Telah Hilang

Oleh : Silvia Pauzia
PASUNDANNEWS.COM – Kebingungan itu selalu menggentayangi isi kepala seorang gadis yang putus asa. Berharap namun dihempas realita, juga menyerah namun tidak tau cara mengakhiri. Kini perempuan itu meneteskan butiran air terakhir yang sempat menumpuk di ujung matanya, kelopak mata yang tidak menampakkan sinarnya membius diri untuk tetap diam dalam hamparan duri yang sulit dihindari. Kini ia tak mampu tersenyum, tak mampu kembali.

Namanya disebut dalam sebuah aksi masa sebagai perempuan progresif, nama yang terngiang di telinga puluhan masa itu berhasil membuatnya takjub atas dirinya sendiri. Nama yang sempat diteriakan itu begitu penuh pujian atas dirinya, sebab dia berani dan tangguh. Akan tetapi nama perempuan itu dihancurkan dalam nada yang begitu bising keluar dari mulut lelaki yang telah melukai iman perempuan tersebut. Iman yang telah di bangun secara dogmatis oleh keluarga, harus sirna dengan ungkapan penuh kelembutan yang berhasil memporak-porandakan naluri keimanannya. Perempuan itu dibelainya penuh kasih dengan kata-kata yang begitu membuatnya tenang namun palsu.

Atas luka yang telah dirasakan, perempuan itu tidak lagi percaya atas iman yang telah ia anut, baginya Tuhan yang dianggap Maha baik pada akhirnya melukai hamba-Nya. Seakan perempuan itu berkata bahwa Tuhan tidak berbeda jauh dengan manusia, mampu berbuat baik sebagai penjilat juga menjadi penjahat sebagai wujud aslinya. Akhirnya sang gadis menafikan semua luka imannya.

Ia tak lagi memperdulikan kecewa apa yang telah ia rasakan. Ia akhirnya kembali menjadi massa aksi yang begitu progresif dan penuh rasa tanggungjawab atas pembelaan rakyat yang terus menerus dikhianati wakil rakyat dan para birokrat, pemakan suap yang tidak tahu diuntung.

Perempuan itu terus menyuarakan apa yang memang harus disuarakan. Gerakan yang terus bergerak secara masif dan sistemis, di dalam hatinya perempuan itu berharap atas kemenangan serta keadilan akan segera berwujud manis. Dalam aksi massa yang telah berjalan begitu masif ia bertemu sosok lelaki yang begitu angkuh saat menyampaikan orasinya. Sialnya, perempuan itu terkagum-kagum dengan lelaki yang bahkan tidak di kenalnya itu.
Luka iman yang belum selesai membuatnya memberanikan diri untuk menyampaikan rasa kagumnya pada lelaki yang dikaguminya itu. Pada akhirnya, Ia berhasil mendapatkannya. Ego yang terus diberi makan seakan melupakan tuannya, kegoblokan seorang perempuan menjelma dia kini menjadi gadis yang kehilangan dirinya sendiri dan berada pada kuasa seorang lelaki gagah, namun pembohong. Sangat pembohong, ketika dirinya berkata, Ia juga mencintai perempuan yang menyatakan kagumnya.
Sebuah tipu muslihat mulai bekerja, saat ia berada dalam kuasa orang lain saat itu pula kesakitan naluri perempuan itu mencuat dan menjelma begitu mengerikan, Ia rela dihempas ke jurang yang begitu dalam dan sangat berbahaya dengan alasan ia mampu berkorban untuk lelaki yang ia kagumi. Bodoh, saat ia menumpaskan semua rasa kagumnya, saat itu pula ia dikhianati sebagai seorang perempuan.
Khianat-khianat terus datang dari seorang pecundang yang mengaku kaum intelektual, namun tidak memakai nuraninya. Ia dihempas dan ditinggalkan begitu saja, kini sudah tuntas ia sebagai seorang perempuan yang dihancurkan nalurinya.

Pergerakan tetap berjalan dan perjuangan belum selesai, kini ia harus kembali bertempur di atas luka naluri keperempuanannya ia menyatakan diri sebagai seorang perempuan kuat, atas apa yang telah terjadi. Walau kau tahu bahwa segala luka yang ada belum pernah tuntas selesai. Ia yakin bahwa dirinya kuat dan tangguh, berani dengan segala apa yang akan terjadi padanya. Konyol, saat ia begitu percaya diri ia harus menemukan realita yang menyakitkan dalam dirinya sebagai seorang aktivis. Perjuangan belum selesai, pergerakan tentu terus bergerak dan berevolusi, memberikan wujud-wujud lain dari pergerakan. Harap-harap suatu kemenangan mutlak di tangan rakyat, akan tetapi sebuah pergerakan pun mampu mengkhianati rakyatnya. Mereka yang berjuang atas nama rakyatnya, mencari sumber pengisi perut dalam ranah pergerakan adalah sebuah pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan! Begitulah, yang terjadi dalam pergerakan yang dilakukan segelintir orang pragmatis dan oportunis berhasil mendapatkan peluang untuk berlaku busuk, memainkan masa dan melakukan transaksi busuk di bawah meja di belakang masa yang terus berjuang. Saat mengetahui hal tersebut dada ia tersentak dan sangat sesak. Rasa marah yang teramat besar membuatnya kesulitan menumpahkan semuanya! Aktivis-aktivis sampah dan bajingan itu ikut berkorupsi bersama para birokrat tempat bermainnya, sebuah pergerakan yang bergerak begitu sistemis dan massif ternyata hanya sebuah strategi untuk para aktivis sampah yang mencari sumber pengisi perut.

Kini ia telah tuntas, Luka iman, luka nalar juga luka keperempuanan yang menganga semakin dalam itu sulit ia selesaikan. Telah hancur ia sebagai seorang perempuan, tak mampu lagi percaya pada Tuhannya tiada lagi kepercayaan pada seorang lelaki, bahkan sekalipun lelaki akan menjamah tubuhnya ia sangat bersedia agar semua luka tuntas dan ia akan hangus, kini nalar yang sempat ia bangun tidak lagi bernyawa dan kehilangan raganya. Biarkan ia menjadi perempuan bodoh tanpa iman, tanpa naluri dan tanpa nalar.