PASUNDAN NEWS – Kontestasi pemilu memiliki muatan proses yang kompleks dan memerlukan sumberdaya yang harus dipersiapkan secara matang, baik secara kelembagaan sebagai partai politik, terlebih secara pribadi sebagai calon-calon nya.

Kesiapan ini tidak hanya semata energi secara finansial, tetapi memang perlu melakukan kolaborasi utuh untuk mendukung performa holistik seluruh pengetahuan dari berbagai aspek berbangsa dan bernegara.

Beberapa hal diantaranya yang harus dipersiapkan dalam kolaborasi utuh oleh partai politik atau calon yang akan berkontestasi dalam pemilu, antara lain menyusun strategi politik yang jelas dan efektif untuk menarik dukungan dari pemilih, hal ini melibatkan penyusunan visi, misi, dan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kekinian.

Secara utuh banyak partai politik di negeri ini tidak mampu mentransformasikan visi dan misi serta program-program nya menjadi produk unggulan yang dapat diterjemahkan secara langsung oleh jajaran di setiap level dan hirarki lembaga partai, mulai dari tingkat pusat sampai pada tingkat daerah dan lokal, apalagi di tingkat kecamatan dan ranting.

Pada sisi ini terjadi keterputusan agenda, karena selain strategi yang diusung terlalu melangit juga tidak utuh tersampaikan pada jajaran fungsionaris yang serabutan.

Padahal semestinya partai politik itu diisi kaum cendikia yang memiliki ketajaman melihat fenomena utuh kebutuhan masyarakat pemilih, serta di isi oleh kalangan intelektual yang memiliki pengetahuan luas, fakta terkini yang terjadi malah di isi oleh kalangan pragmatis dan transaksional.

Pada akhirnya performa partai yang mengusung program-program unggulan berubah wajah menjadi gerakan sporadis dengan hanya mengedepankan aspek popularitas dan finansial semata.

Sementara ide dan gagasan tidak menjadi tema utama untuk merepresentasikan keutuhan arah kebijakan partai ketika dipercaya oleh para pemilihnya.

Ini adalah kelemahan tersendiri semua partai politik yang tidak sanggup bekerja untuk mengimbangi model masyarakat pemilih kekinian dalam setiap perhelatan pemilu, karena kalah oleh popularitas kefiguran, namun ternyata diujungnya popularitas kefiguran seseorangpun terbius oleh rendahnya kepercayaan diri untuk meraih elektabilitas, dan hal ini berimplikasi untuk mendorong upaya salah kaprah dalam mengalokasikan kekuatan finansialnya.

Rendahnya kepercayaan diri untuk meraih elektabilitas dan Kesalahkaprahan dalam mengalokasikan sumber daya finansial, kemudian melahirkan dan menumbuhkembangkan kesuburan prilaku politisi busuk dan menghadirkan pemilih yang kerdil.

Kedua belah pihak ini lah yang kemudian mengorkestrasikan model politik dalam pemilu kekinian dengan terjemahan politik transaksional tidak mencerdaskan, kemudian berujung pada terpilihnya pejabat koruptif diberbagai lini pemerintahan, dan kedua belah pihak ini pula yang seharusnya menjadi penanggung jawab utama atas terciptanya mata rantai korupsi yang tumbuh subur di negeri ini.

Karena visi dan misi serta program-program partai politik terkesan berada di atas langit dan tidak menapakan kakinya pada tanah di bumi, isi yang ditawarkannya sebagai strategi meraih perolehan suara, tidak menembus kesan simpati dan empati pemilih dan hanya mendapatkan tanggapan dengan sikap nyinyir sebagai janji palsu yang tak berujung.

Hal ini terjadi karena dalam tubuh partai politik telah kehilangan ghirah atau spirit fundamental yang hanya bisa diisi oleh para kaum pemikir dan filosofis yang tajam melihat fenomena holistik yang dibutuhkan oleh masyarakat pemilih.

Penulis adalah Rd. Dadan K. Ramdan, MT. Ketua KPU Kabupaten Purwakarta 2003-2008.

Artikel sebelumyaSDM PKH Purwadadi Hadirkan Inovasi ‘Simadu’, Sinergitas Pemberdayaan KPM Menuju Gradusi Mandiri 
Artikel berikutnyaInovatif, Disdukcapil Ciamis Sosialisasikan Pelaminan Pengantin, Permudah Pelayanan Adminduk