Beranda Opini PEREMPUAN (TANPA) MORAL

PEREMPUAN (TANPA) MORAL

Poto : Silvia Pauzia

PASUNDANNEWS – Pada akhirnya semua perempuan butuh tempat yang paling nyaman untuk mengeluarkan segala masalah yang mengendap dalam pikiran nya. Sesekali perempuan perlu perhatian lebih karena perempuan memang makhluk paling rentan dalam segala hal, perempuan adalah sosok yang lembut dan perasa.

Aku adalah seorang perempuan yang mempunyai banyak mimpi sebelum akhirnya mimpi itu ku kubur dalam-dalam karena aku merasa tidak pantas lagi memiliki mimpi yang tinggi dengan jalan hidup seperti ini yang bisa dikatakan masyarakat bahwa “Aku perempuan yang tidak bermoral.”

Semua ini bermula ketika aku memberikan tubuhku pada seseorang yang sangat aku cintai dan sebagai satu-satunya manusia yang aku yakini bahwa dia memang sosok yang ku inginkan untuk menemani setiap perjalanan hidupku.

Banyak sekali masalah yang aku jumpai dengan persoalan-persoalan rumit yang tak kunjung ku temukan titik akhir. Namun, dengan begitu seorang teman selalu menyadarkan ku bahwa begitulah hidup.

Saat ini ku menjadi seorang pekerja korporat yang sangat konservatif terhadap setiap pekerjaan yang diberikan, sosok gadis mungil dengan gelar sarjana di universitas yang bisa dibilang universitas terbaik di daerahku. Aku menjadi seseorang yang cukup banyak diam, tidak terlalu banyak tingkah dan hanya fokus pada hal-hal yang memang ingin ku kerjakan. Karena rasa trauma yang mandalam memaksaku untuk menjadi sosok pendiam dan tertutup.

Banyak orang-orang yang mengagumiku dan memuji-mujiku mengatakan bahwa aku sosok perempuan cerdas tapi kejadian-kejadian kelam di masalalu tak mempengaruhi hidupku untuk kembali semangat menjalani hari.

Berawal dari perjalanan sewaktu pertama kali menjadi pekerja korporat aku sangat aktif dan ceria karena perusahaan ku saat ini adalah tempat yang sangat aku impikan sejak dulu, bisa duduk disini dengan seorang senior panutanku adalah kebanggaan yang tiada akhir. Aku selalu mencari hal baru yang ingin aku pelajari, karena aku tipikal orang yang tidak mau disebut bodoh. Ya, begitulah.

Suatu ketika aku sering mendapatkan pesan-pesan singkat dari seniorku. Pesan-pesan singkat itu berujung dengan seringnya kita makan siang bersama entah itu di area kantor maupun di luar kantor. Jujur aku senang, karena aku begitu mengaguminya. Sosok yang gagah, cerdas, pemberani dan tidak semena-mena ku pandang begitu mengagumkan.

Semakin hari rasanya semakin dekat, bukan dekat antara junior dan senior lagi tapi kita seperti semakin mengandalkan perasaan lebih dari sekedar itu dalam benak masing-masing. Tentu saja aku merasa senang, sudah lima tahun aku tidak pernah mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu dari seorang laki-laki. Terakhir ketika aku menginjak kelas tiga SMA dan itu satu-satunya mantan ku. Setelah berhari-hari kita sering jalan bersama, dia memutuskan untuk menjadikan ku pacarnya. Dengan sangat senang hati aku setuju untuk dijadikan pacarnya. Kesempatan yang entah kapan akan ku temukan lagi pikirku.

Tidak bertahan lama semua kebahagiaan itu hancur! Aku yang terlanjur senang dan mengatasnamakan sayang rela memberikan tubuhku padanya, ku kuatkan diriku pada hari itu. Namun rasanya sulit. Serangan budaya dan doktrinan dari sana-sini tentang pentingnya menjaga tubuh sehingga menstigma bahwa pentingnya selaput dara sama berharganya seperti harga nyawa menjadikan ku berpikir bahwa aku bukan lagi perempuan bermoral, tidak pantas di hargai dan tidak layak hidup.

Nasib yang buruk kembali datang, selain hatiku hancur karena kejadian itu tidak berlangsung lama dia meninggalkanku dengan alasan yang sama sekali tidak bisa ku terima bahkan aku tidak mengerti dimana letak salahku. Tragis sekali! Bahkan setelah kuberikan tubuhku, kini dia menghancurkan segala mimpiku sekaligus hidupku. Rasa sayang dan cinta yang ku agungkan ternyata menjadi racun yang ingin menghabiskan hidupku.

Aku putus asa, sangat putus asa. Kejadian itu meninggalkan bekas yang begitu mendalam. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menjadi sosok yang pendiam dan tertutup, menjadi sosok yang berusaha tidak terlihat. Karena jujur aku malu dan sangat malu untuk tetap hidup, bahkan sesekali ingin ku akhiri hidup ini. Aku tidak pernah berani bercerita pada siapapun, hingga tiba saatnya aku benar-benar tumbang dan kalah berujung terbaring di rumasakit selama dua minggu. Aku mengalami depresi berat, dituntun seorang profesional akhirnya ku ceritakan semua kejadian yang menimpaku.

Luar biasa!
Disana, aku menemui banyak hal yang kembali menggairahkan hidup. Bantuan seorang profesional memang sangat berpengaruh besar. Aku memang belum sembuh seutuhnya, namun aku mulai berdamai dan aku ingin kembali hidup. Setelah aku menyadari dan mengakui kondisiku kini aku butuh support system yang kuat untuk tetap membuatku bertahan hidup beruntungnya aku memiliki sahabat yang berani menerima baik dan burukku.

Untuk dirimu, siapapun kalian sadarlah. Berhenti menghabiskan energi untuk hal-hal yang kita inginkan namun tidak bisa kita dapatkan, berhenti berekspektasi dan berharap pada sesuatu yang mungkin atau bahkan tidak mungkin terjadi. Simpan energimu untuk hal-hal yang jauh lebih beharga untuk hidupmu.

Kini saat nya aku menutup akses masalalu dalam-dalam yang tidak berhak lagi hadir untuk sebuah kehancuran, hidup harus selalu memiliki batasan untuk kebahagiaan (set boundaries).

Katakanlah perempuan, katakanlah bahwa kamu adalah segalanya. Hidupmu tidak akan terulang dua kali, luka mu jangan dibiarkan terus kembali hadir. Sadarlah dengan segala sesuatu yang rumit dan patut ditinggalkan, sadarlah dengan segala sesuatu yang menenangkan dan patut dicintai.

Dia bukan siapa-siapa untuk berani mengahancurkan mimpimu, melukai hatimu lebih dalam, dan mematikan hidup sebelum nyawa yang hilang. Perempuan sangat berharga tidak hanya dinilai dari tubuh nya saja, dia berharga dengan segala kecerdasan nya, dia patut dihargai dengan segala kekuatannya yang luar biasa. Kita tetap perempuan utuh, tidak ada yang hilang dari kita. Kita pun layak dicintai dengan benar dan bermartabat.

Kamu tidak sendiri, banyak perempuan yang mengalami hal yang sama dan berhasil keluar dari permasalahan ini. Bagaimana mereka mencapai kesadaran kritis, pulih, kembali berdaya dan membedayakan perempuan lain. Jangan pedulikan waktu dalam proses, lama atau sebentar semua punya roda masing-masing yang mungkin dengan diameter yang berbeda setiap dari kita mempunyai kerentanan yang berbeda-beda. Carilah support system yang kuat hindari playing victim percayalah victim blaming tak jarang membuat orang lain ingin bunuh diri.

Bermimpilah kembali. Aku perempuan, hari ini aku memutuskan untuk tidak lagi dibelenggu masalalu kelam dan rasa sakit. Aku perempuan, aku berhak tetap hidup dan terus bermimpi. Aku perempuan dan aku berharga.