Beranda Opini Pandemi Corona, Bagaimana Tata Ruang Kota Dipersiapkan Agar Ramah Bencana Non Alam?

Pandemi Corona, Bagaimana Tata Ruang Kota Dipersiapkan Agar Ramah Bencana Non Alam?

Pandemi virus corona membawa dampak besar bagip erubahan gaya hidup masyarakat salah satunya di Perkotaan. Adanya bencana non alam yang saat ini dirasakan oleh masyarakat mengharuskan penataan ruang Perkotaan harus disiapkan agar tangguh menghalau bencana alam dan non alam.

Pandemi membuat semua aktivitas dilakukan dari rumah, bekerja, belajar, berolahraga harus dilakukan di rumah, sebagai langkah pencegahan penularan virus corona. Perkotaan sebagai pusat peradaban dan pusat ekonomi, harus disiapkan agar ke depan mampu menghadapi bencana alam maupun non alam.

Ketua Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota SAPPK ITB, Prof. Ir. Haryo Winarso, mengungkapkan perancangan kota masa depan harus dipersiapkan agar tidak hanya menjadi pusat perekonomian tetapi mampu tahan terhadap bencana agar tetap survive. Tiga hal penataan kota di masa mendatang yang perlu dipersiapkan yakni penataan digital infrastructure, housing, dan transportasi.

“Kota akan tetap survive, demikian juga tentu dengan manusianya. Perencanaan kota kedepan harus fokus pada tiga hal utama ini untuk mengembangkan ekonominya,” ungkap Haryo dalam Webinar Perkotaan Saat dan Pasca Pandemi Covid-19, yang diselenggarakan oleh Surban.id dan IAP Jabar, Kamis (25/6/2020).

Penataan digital infrastructure menjadi hal penting karena semua lini pekerjaan dan kehidupan masyarakat kedepan akan berkaitan dengan digital. Housing, bagaimana menciptakan lingkungan perumahan yang bisa menjadi tempat kerja, tempat wisata, dan tempat belajar juga tentunya tempat istirahat. Selain itu penataan transportasi menjadi hal yang perlu dipersiapkan dengan baik.

“Semuanya dengan peningkatan pada fasilitas sanitasi dan kebersihan,” ungkap Haryo.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia, Andy Simarmata mengungkapkan kota sebagai pusat peradaban harus ditata agar menjadi kota humanistik, mampu memanusiakan warga kota. Juga harus mempersiapkan kota dalam menghadapi bencana kesehatan seperti yang dihadapi saat ini.

Adapun substansi perencanaan Perkotaan di era pandemi Covid-19 kata Andy, meninjau kembali standar kepadatan dalam ruang perkotaan, penambahan fasilitas pengamanan kesehatan dalam standar bangunan dan lingkungan.

“Melekatnya protokol kesehatan dalam gaya hidup perkotaan, mengharuskan perencanaan kembali ruang-ruang publik yang lebih responsif terhadap isu kesehatan,” kata Andy.

“Dalam optimalisasi ruang menuju kota humanis, nilai kebermanfaat itu menjadi dasar ukuran. Penataan terhadap ruang juga dibutuhkan Zoning menajer, orang yang bisa memberikan rekomendasi si pembuat bangunan, buang limbah ke mana, listrik dan air,” lanjut Andy menambahkan.

Kondisi Perkotaan pada masa pandemi covid-19 berdampak pada berbagai aspek, ekonomi, sosial dan dampak sosial. Di Jawa Barat sendiri selama pandemi Covid-19 perekonomian mengalami penurunan cukup signifikan. Menurut data dari Bank Indonesia (BI) Kanwil Jabar, perekonomian di Jawa Barat turun hingga 2.73 persen. Persiapan kota tangguh bencana pada masa pandemi Covid-19 pada aspek ekonomi, fisik, spritual dan sosial. (Pasundannews /fhn)