Beranda Bandung Raya

Hampir Rampung, DP2KBP3A KBB Segera Miliki Gudang Alkon

Poto penampakan pembangunan gedung Alkon milik D2KBP3A KBB yang bersumber dari DAK 2020 lokasi di Jl. Tegal Parean Sukatani Ngamprah, (Poto diambil, Rabu 12/8)
KBB, PASUNDANNEWS – Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung Barat (KBB) akan segera memiliki gudang alat obat, perlengkapan kontrasepsi (Alkon).
Gudang yang bertempat di Jl. Tegal Parean Desa Sukatani Kecamatan Ngamprah dengan ukuran luas 150 meter persegi, berdiri di tanah hak milik Pemerintah Desa (Pemdes) Sukatani (tanah carik).
Pengerjaan gedung yang dilaksanakan oleh CV. Megah Jaya kini sudah memasuki masa progres 90 persen dan berencana akan dapat digunakan pada November 2020.
Kepala DP2KBP3A KBB R. Eriska Hendrayana, mengatakan Jasa Konsultan Perencana dan Pengawasan yang mencapai diangka 10 persen dari pagu anggaran sudah sesuai dengan petunjuk teknis pembangunan gudang yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2020 ini.
“Tidak ada ketentuan berapa besaran jasa konsultan, kita menganggarkan masing-masing Rp 25 juta untuk jasa konsultan perencanaan dan pengawasan itu sudah dengan ketentuan,” ujar Eriska.
Lebih lanjut, Eriska menuturkan nota kesepakatan atau Master Of Understanding (MOU) dengan Pemdes Sukatani terkait penggunaan lahan sudah terjalin kesepakatan kontrak, yakni selama 15 tahun dengan rincian sewa Rp 5 Juta per tahun.
“Sudah ada Perdesnya, 15 tahun kita kontrak, pertiga tahun kita ada kenaikan Rp.500 ribu per tahun, dan bisa diperpanjang kembali,” tegasnya.
Gedung Alat, obat Kontrasepsi (Alkon) 2020 bersumber dari DAK 2020 dengan besaran pagu sebesar Rp. 250 juta, terdiri dari Rp 200 Juta untuk pembangunan oleh pihak ketiga, Rp 25 juta masing-masing untuk jasa konsultan perencanaan dan pengawasan.
“Gedung ini merupakan kebutuhan mendesak bagi kita, karena berdasar ketentuan, gudang harus berada di lantai satu, sementara ini kita menyimpan Alkon itu di gudang kantor, dan itu kurang memadai karena berada di lantai dua, tidak efektif baik saat penerimaan barang maupun pendistribusian barang,” Jelasnya. (Boim)