BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Upaya Kabupaten Ciamis dalam mengembangkan energi terbarukan kian menunjukkan hasil nyata.

Melalui inovasi pemanfaatan limbah kayu dari industri penggergajian, pertukangan, hingga sisa konstruksi, kini masyarakat mulai mampu mengubah limbah tersebut menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti arang dan wood pellet yang ramah lingkungan.

Langkah progresif ini mendapat dukungan akademik dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), yang melakukan kegiatan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat Desa Selamanik, Kecamatan Cikoneng.

Dosen SITH ITB, Dr. Ihak Sumardi, memimpin program bertema “Pemanfaatan Limbah Industri Penggergajian Menjadi Energi Terbarukan” bersama Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Mandiri Sejahtera pada akhir Oktober 2025, dilanjutkan dengan praktik pembuatan wood pellet pada 10 November 2025.

“Kami memperkenalkan bagaimana limbah serbuk gergaji yang selama ini tidak bernilai bisa diolah menjadi energi alternatif yang efisien, bersih, dan bernilai ekonomi,” ujar Dr. Ihak Sumardi, Senin (11/11/2025).

Dalam kegiatan tersebut, warga diperkenalkan proses produksi wood pellet, mulai dari pemilahan serbuk kayu, pemampatan, hingga pengeringan.

Baca Juga :SITH-ITB Kembangkan Bisnis dan Usaha Pelet Kayu pada KUBE di Desa Selamanik Ciamis

Antusiasme warga Desa Selamanik sangat tinggi. Mereka berharap program ini dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari ekonomi sirkular desa, yang memanfaatkan potensi lokal untuk menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja baru.

“Kami ingin kegiatan seperti ini menjadi bagian dari ekonomi desa yang terus berputar dan memberi manfaat jangka panjang,” ungkap salah satu peserta pelatihan.

Permintaan terhadap bahan bakar alternatif seperti wood pellet dan arang terus meningkat, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri kecil.

Dengan pasokan limbah kayu yang melimpah, Ciamis memiliki potensi besar untuk menjadi sentra energi biomassa, bahkan membuka peluang ekspor.

Wood pellet dikenal memiliki nilai kalor tinggi, stabilitas penyimpanan yang baik, serta efisiensi energi tinggi, menjadikannya alternatif ideal pengganti bahan bakar fosil di tengah isu global perubahan iklim.

Kendati demikian, Dr. Ihak menegaskan bahwa tantangan utama terletak pada transfer teknologi dan standar kualitas produk.

Diperlukan dukungan lintas sekto, antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah daerah, agar industri biomassa ini dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Kolaborasi adalah kunci. Dengan dukungan teknologi dan komitmen masyarakat, Ciamis bisa menjadi pionir energi hijau berbasis limbah kayu di Indonesia,” katanya menegaskan.

Program ini menjadi langkah strategis dalam mengurangi polusi, menggerakkan ekonomi desa, serta memperkuat kemandirian energi daerah. Dengan semangat inovasi dan gotong royong, Ciamis membuktikan diri siap menuju masa depan yang lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan.

(Herdi/PasundanNews.com)