Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Rejasari, Enceng Satiman. Foto/Hermanto.PasundanNews.com

BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Warga Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, dibuat bingung oleh beredarnya surat undangan audiensi yang tidak jelas asal-usulnya.

Surat tersebut mengajak masyarakat menghadiri pertemuan (audiensi) dengan pemerintah desa, namun tanpa mencantumkan identitas pengirim maupun cap resmi.

Meski kejanggalan itu jelas terlihat, sejumlah warga tetap mendatangi kantor Desa Rejasari pada Kamis (6/11) pagi. Mereka berharap dapat memanfaatkan momen tersebut untuk menyampaikan langsung aspirasi kepada pemerintah desa.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Rejasari, Enceng Satiman, membenarkan bahwa undangan yang diterima pihaknya memang tidak mencantumkan siapa pengirimnya.

“Sekitar jam satu siang hari Rabu saya menerima surat dari Pak Kades. Isinya permohonan audiensi jam delapan pagi dengan peserta sekitar 20 orang, tapi tidak ada nama pengirimnya. Hanya tertulis ‘atas nama masyarakat’,” ujarnya saat ditemui usai pertemuan, Kamis (6/11/2025).

Enceng menilai isi surat tersebut janggal karena tidak sesuai dengan prosedur resmi surat-menyurat yang berlaku di lingkungan pemerintahan desa.

Ia menambahkan, biasanya setiap surat resmi harus mencantumkan identitas jelas, tanda tangan, dan cap lembaga terkait. Meski begitu, pihak BPD tetap merespons undangan tersebut secara positif.

Baca Juga :Gagal Audensi Dengan Kepala Desa, Warga Rejasari Kota Banjar Kecewa

“Saya anggap ini sebagai bentuk itikad baik dari warga yang ingin berdialog dengan pemerintah desa. Jadi kami tetap menampung aspirasi mereka,” katanya.

Pertemuan yang berlangsung di kantor desa tersebut berjalan tertib. Beberapa warga yang hadir memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan berbagai persoalan seputar pelayanan publik dan infrastruktur desa. Namun, hingga kini identitas pembuat surat masih menjadi teka-teki.

“Saya sudah tanya ke beberapa warga yang datang, semuanya mengaku tidak tahu siapa yang membuat surat itu. Kami juga masih menelusuri siapa inisiatornya,” ungkap Enceng.

Pemerintah Desa Rejasari berencana menindaklanjuti peristiwa ini dengan meningkatkan koordinasi dan komunikasi antar warga agar kejadian serupa tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.

(Hermanto/PasundanNews.com)