Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Ciamis, Dian Budiyana. Foto/Pepi Irawan.PasundanNews.com

BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Prosesi Kirab Mahkota Binokasih kembali digelar dan menjadi momen penting bagi masyarakat Kabupaten Ciamis dalam merawat warisan budaya Sunda.

Perjalanan sakral yang dimulai dari Keraton Sumedang Larang tersebut berakhir di kawasan Astana Gede, Kawali, yang diyakini sebagai salah satu pusat peradaban Kerajaan Galuh.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Ciamis, Dian Budiyana, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari upaya menghidupkan kembali jejak sejarah yang memiliki nilai tinggi bagi masyarakat Sunda.

Mahkota Binokasih sendiri merupakan peninggalan bersejarah dari masa Kerajaan Galuh, khususnya era Surawisesa di Kawali.

Artefak tersebut dibuat oleh Bunisora Suradipati dan dipersiapkan untuk penobatan Raja Wastu Kencana, sekaligus menjadi simbol kejayaan kepemimpinan Sunda di masa lampau.

Baca Juga :Kolaborasi Lintas Sektor Diperkuat, Penanganan 13 Ribu Anak Putus Sekolah di Ciamis Dikebut

“Keberadaan mahkota ini menjadi bukti nyata tingginya peradaban nenek moyang kita. Melalui kirab, masyarakat bisa merasakan langsung kedekatan dengan sejarah tersebut,” ujar Dian saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (5/5/2026).

Ia menambahkan, kegiatan kirab juga memiliki peran penting dalam mengenalkan sejarah kepada generasi muda.

Menurutnya, pendekatan budaya seperti ini mampu membuat generasi milenial dan Gen Z lebih memahami nilai sejarah secara nyata, tidak hanya melalui buku pelajaran.

Lebih lanjut, Dian mengungkapkan bahwa nilai filosofi budaya Sunda yang terkandung dalam kirab tersebut juga relevan dengan pembangunan masa kini.

Konsep “budi” sebagai pemikiran dan “daya” sebagai tindakan dinilai mencerminkan kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan visi dan kesejahteraan masyarakat.

Tak hanya berdampak pada aspek budaya, kegiatan ini juga memberikan efek ekonomi yang cukup signifikan.

Selama pelaksanaan kirab, berbagai sektor turut merasakan manfaat, mulai dari pelaku UMKM yang mendapat peluang pasar lebih luas hingga meningkatnya kunjungan wisatawan ke situs-situs bersejarah di Ciamis.

Selain itu, tingkat hunian hotel dan homestay di sekitar lokasi acara juga mengalami peningkatan, menandakan adanya perputaran ekonomi yang terjadi selama event berlangsung.

Pemkab Ciamis berharap sinergi antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi ini mampu mendorong lahirnya inovasi serta kreativitas baru dari masyarakat, khususnya dalam menyambut agenda budaya di masa mendatang. (Pepi Irawan/PasundanNews.com)