BERITA JABAR, PASUNDANNEWS.COM – Kirab Mahkota Binokasih kembali menjadi daya tarik utama dalam rangkaian kegiatan budaya di Sumedang.
Dalam prosesi yang digelar Sabtu (2/5/2026), masyarakat disuguhkan arak-arakan pusaka bersejarah yang sarat makna, bukan sekadar simbol kejayaan masa lalu.
Mahkota peninggalan Kerajaan Sunda ini dikenal bukan hanya karena materialnya yang terbuat dari emas, tetapi juga karena nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Setiap unsur pada mahkota tersebut mencerminkan ajaran kehidupan yang luhur dan relevan hingga saat ini.
Radya Anom Karaton Sumedang Larang, Luky Djohari Soemawilaya, menjelaskan bahwa makna mendalam sudah tercermin dari nama lengkapnya, yakni Binokasih Sanghyang Pake.
Ia menguraikan bahwa “Binokasih” bermakna kasih sayang, sementara “Sanghyang Pake” mengandung arti penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga :Karnaval Binokasih Jelajah Jabar, Dedi Mulyadi Angkat Sejarah Sunda ke Ruang Publik
“Dengan demikian, binokasih mengajarkan bahwa nilai kasih sayang harus menjadi landasan dalam setiap tindakan manusia,” tuturnya.
Dari prinsip itu, lahir berbagai sikap positif seperti gotong royong, toleransi, musyawarah, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
“Tak hanya dari segi nama, filosofi juga tergambar dari bentuk fisiknya,” ucapnya.
Mahkota Binokasih memiliki tiga tingkatan yang merepresentasikan konsep Sunda Tritangtu, yaitu silih asah, silih asih, dan silih asuh—yang bermakna saling berbagi pengetahuan, saling menyayangi, dan saling membimbing.
Ornamen yang menghiasi mahkota pun mengandung simbol tersendiri. Hiasan bunga wijaya kusuma serta burung julang melambangkan kesetiaan, ketulusan, serta kekuatan niat dalam menjalani kehidupan.
Menurut Luky, nilai-nilai yang tersimpan dalam Mahkota Binokasih bukan sekadar warisan budaya, melainkan pesan moral yang tetap relevan bagi masyarakat masa kini.
“Semoga, kirab ini menjadikan generasi muda dapat memahami dan menerapkan filosofi luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sehingga nilai budaya Sunda tetap hidup dan berkelanjutan dari masa ke masa,” pungkasnya. (Herdi/PasundanNews.com)



















































