BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Suasana hangat dan penuh makna menyelimuti kegiatan penutup semester yang digelar oleh Sakola Motekar Ciamis melalui acara bertajuk ‘Ngababar Hanca Diajar’.
Berlangsung di Lembur Kaulinan Cibunar, pada Selasa (8/7/2025) kegiatan ini menghadirkan momentum reflektif sekaligus perayaan proses belajar yang dijalani anak-anak kelas Reguler selama dua semester terakhir.
Berbeda dari seremoni kenaikan kelas pada umumnya, acara ini justru menjadi panggung ekspresi yang jujur dan membebaskan.
Anak-anak dengan penuh percaya diri mempresentasikan hasil riset dan eksplorasi mereka, dari menanam timun, membuat website, pizza, hingga menciptakan kalung dan aksesori.
Tak hanya karya, mereka juga menyampaikan kisah personal seputar pengalaman menjaga diri, menjaga sesama, dan belajar melalui lagu serta refleksi mendalam.
Salah satu momen paling menyentuh hadir dalam sesi “Refleksi Sekolah Merdeka”, ketika anak-anak dan orang tua secara terbuka membagikan pengalaman mereka dalam menjalani proses pembelajaran yang tidak selalu mudah namun penuh arti.
Tangis haru pun pecah di antara para hadirin, sebagai bentuk keinsyafan bahwa pendidikan sejati bukanlah soal angka, tapi soal tumbuhnya manusia.
Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari pejabat pemerintah daerah, akademisi, pegiat komunitas, hingga masyarakat sekitar.
Para orang tua, serta pegiat dan warga komunitas lokal Komitmen Terhadap Pendidikan yang Holistik dan Kontekstual.
Ade Ridwan Mustopa, Kepala PKBM Sanggar Anak Desa mengatakan, Sakola Motékar hadir sebagai ruang belajar alternatif yang menggabungkan pendekatan berbasis komunitas, nilai budaya lokal, dan keyakinan pada proses alami tumbuh kembang anak.
Melalui legalitas sebagai satuan pendidikan nonformal dengan NPSN, anak-anak yang belajar di kelas Reguler tetap mendapatkan pengakuan formal berupa Ijazah Pendidikan Kesetaraan.
“Ngababar Hanca Diajar bukan sekadar program sekolah, tetapi pernyataan kolektif bahwa belajar bisa dan seharusnya hadir dalam suasana yang manusiawi, akrab, dan membebaskan,” ujar Ade Ridwan.
Sakola Motekar sebagai Role Model Kurikulum Merdeka
Dukungan juga datang dari akademisi, Sri Mulyati, S.Pd., M.Pd., dosen UPI Tasikmalaya, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Ini adalah bentuk evaluasi otentik terhadap proses belajar selama satu tahun terakhir. Dengan legalitas formal yang telah dimiliki, Sakola Motékar semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan alternatif,” ujarnya.
Ia berharap ke depan Sakola Motékar dapat memperluas kontribusinya melalui pelatihan keterampilan yang memberdayakan masyarakat, sehingga menjadi sumber belajar yang kontekstual dan bermanfaat langsung bagi lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Ciamis, Eka Yudha Katresna menilai Sakola Motékar sebagai contoh nyata dari pelaksanaan pembelajaran mendalam (deep learning) yang menjadi bagian dari transformasi pendidikan nasional.
“Dengan nilai meaningful, mindful, dan joyful learning, Sakola Motékar membuktikan bahwa pendidikan bisa sekaligus menumbuhkan karakter dan keterampilan abad ke-21,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti penerapan pembelajaran berdiferensiasi, asesmen otentik, dan proyek kontekstual sebagai bukti konsistensi sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dan berpusat pada anak.
Sakola Motékar Ciamis menunjukkan bahwa pendidikan sejati tak harus terjebak dalam ruang-ruang kelas dan kurikulum yang kaku.
Melalui eksplorasi, kolaborasi, dan keberanian mendobrak pakem lama, sekolah ini telah membuktikan bahwa pembelajaran bisa membumi, membebaskan, dan menyentuh hati.
(Hendri/PasundanNews.com)




















































