BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei dan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei kembali mengundang refleksi.
Bagi sebagian kalangan, dua tanggal ini tidak semestinya berhenti pada seremoni, melainkan menjadi momen untuk meninjau ulang persoalan yang belum terselesaikan di sektor pendidikan dan ketenagakerjaan.
Aktivis sosial pemerintahan, Irwan Herwanto, menilai kecenderungan peringatan yang bergeser menjadi perayaan justru berisiko mengaburkan makna historis di balik kedua momentum tersebut.
Ia mengingatkan bahwa May Day dan Hardiknas lahir dari perjuangan panjang, bukan sekadar agenda rutin tahunan.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah kejujuran dalam melihat kondisi riil. Dua momentum ini seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan sekadar hiburan,” ujar Irwan, Jumat (1/5/2026).
Ia menyoroti sektor pendidikan yang dinilai semakin menjauh dari fungsi dasarnya sebagai sarana pembebasan.
Kenaikan biaya pendidikan, menurutnya, menjadi indikator kuat bahwa praktik komersialisasi semakin mengakar.
Dalam pandangannya, mahasiswa kini kerap diposisikan layaknya konsumen, bukan sebagai subjek yang mengembangkan daya pikir kritis.
“Pendidikan berubah menjadi komoditas. Padahal, ini adalah hak fundamental setiap warga negara,” ungkapnya.
Baca Juga :Filosofi Mendalam Mahkota Binokasih, Warisan Sunda yang Syarat Nilai Kehidupan
Irwan juga mengaitkan persoalan tersebut dengan kondisi buruh yang hingga kini masih menghadapi tekanan sistem kerja yang tidak sepenuhnya berpihak.
Ia melihat adanya keterkaitan antara mahalnya pendidikan dan rendahnya kesejahteraan pekerja.
“Orang tua yang bekerja sebagai buruh berjuang membiayai pendidikan anaknya. Di sisi lain, mahasiswa yang lulus berpotensi masuk ke sistem kerja yang sama,” katanya.
Selain itu, ia mengkritik sejumlah kebijakan yang dinilai cenderung menguntungkan kelompok pemodal dibanding masyarakat luas. Kondisi ini menurutnya, memperkuat ketimpangan yang sudah ada.
“Ketika biaya pendidikan tinggi sementara upah tetap rendah, masyarakat berada dalam situasi yang tidak adil. Negara seharusnya hadir untuk menyeimbangkan, bukan justru melepas tanggung jawab,” tegasnya.
Ia pun mengajak buruh dan mahasiswa untuk melihat peringatan 1 dan 2 Mei sebagai satu kesatuan perjuangan yang saling berkaitan. Menurutnya, isu pendidikan dan ketenagakerjaan tidak bisa dipisahkan.
Baca Juga :Silaturahmi Pensiunan di Pajamben, PPI Banjar Bahas Arah Pembangunan Daerah
“Selama akses pendidikan belum merata dan kesejahteraan pekerja belum terjamin, maka perjuangan masih terus berlangsung,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Irwan mendorong masyarakat untuk kembali memaknai kedua momentum tersebut secara lebih mendalam.
“Jangan berhenti di perayaan. Jadikan ini pengingat untuk memahami dan memperjuangkan keadilan yang nyata,” pungkasnya.
Diharapkan, peringatan May Day dan Hardiknas tahun ini mampu menjadi titik refleksi bersama guna mendorong terwujudnya keadilan sosial yang lebih luas. (Hermanto/PasundanNews.com)



















































