Foto/Saefulloh.PasundanNews.com

BERITA PANGANDARAN, PASUNDANNEWS.COM – Siti Aulia Marlina (16), siswi SMK Pasundan asal Dusun Haurseah, Desa sekaligus Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dikenal sebagai pelajar berprestasi.

Namun di balik capaian akademiknya, tersimpan kisah hidup yang penuh duka dan keterbatasan. Kisah ini terungkap pada Senin (19/1/2026).

Sejak masih berusia satu bulan, Siti telah ditinggalkan oleh ibu kandungnya, Mardiana.

Sang ibu pergi karena tekanan ekonomi dan ketidaksanggupan mengurus anaknya. Sejak saat itu, Siti diasuh oleh kerabatnya, Pendi dan Titin Suryatin, dan tinggal di sebuah kontrakan sempit dengan kondisi serba kekurangan.

Cobaan hidup Siti bertambah berat ketika pada tahun 2023 ayah tercintanya, Lili Sugandi, meninggal dunia.

Kepergian ayahnya menjadi pukulan besar bagi Siti, karena ia kehilangan satu-satunya sosok orang tua yang masih dimilikinya.

Kisah pilu tersebut terungkap secara tak sengaja saat Siti bersama Titin bertemu Kanit Reskrim Polsek Cijulang, Bripka Zera Janwara, di depan Mapolsek Cijulang.

Saat itu, keduanya tengah berjalan kaki menuju Jembatan Sodongkopo.

“Saya sempat menegur mereka dan bertanya hendak ke mana. Titin menjawab ingin menjemput anaknya di sekitar Jembatan Sodongkopo sekaligus mengajak Siti melihat jembatan,” ujar Zera.

Baca Juga :Warga Dusun Parung Sampaikan Pernyataan Sikap Terkait Penyaringan Kepala Dusun di Desa Balokang

Zera kemudian mengajak mereka beristirahat sejenak di Polsek Cijulang. Dari perbincangan tersebut, Titin menceritakan latar belakang kehidupan Siti. Mendengar kisah itu, Zera mengaku terkejut.

Bagaimana tidak, siswi kelas X SMK Pasundan tersebut diketahui tidak lagi memiliki orang tua. Ayahnya telah wafat, sementara ibunya meninggalkan Siti sejak bayi.

Menurut penuturan Titin, ibu kandung Siti saat ini masih hidup dan telah menikah lagi serta menetap di Depok.

Kerinduan Siti terhadap sosok ibunya pernah mendorongnya menghubungi sang ibu saat duduk di bangku kelas IV SD. Namun harapan itu belum juga terwujud.

“Siti meminta ibunya untuk kembali. Saat itu ibunya hanya menjawab akan menemui Siti jika sudah punya uang. Sampai sekarang, ibunya belum pernah datang,” tutur Zera menirukan cerita Titin.

Di tengah keterbatasan hidup, Siti dikenal sebagai anak yang cerdas dan berprestasi.

Ia kerap meraih peringkat pertama di kelasnya. Meski demikian, kondisi ekonomi keluarga angkatnya membuat Siti sering berangkat sekolah tanpa uang jajan, bahkan harus berjalan kaki sekitar satu kilometer dari rumah ke sekolah.

“Tekadnya luar biasa. Siti sangat bersemangat untuk terus bersekolah,” tambah Zera.

Saat ini, Siti hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Ia sempat menerima bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) sejak SD, namun bantuan tersebut terhenti sejak ia duduk di kelas IX SMP hingga sekarang.

Di sisi lain, Siti tengah menghadapi kebutuhan sekolah yang cukup besar, dengan total mencapai Rp3,6 juta.

Biaya tersebut meliputi kos magang di Quick Mart sebesar Rp250 ribu, biaya makan selama satu bulan sebesar Rp1,8 juta, kunjungan industri ke Yogyakarta sebesar Rp1,25 juta, serta biaya bekal kunjungan sebesar Rp300 ribu.

“Semua kebutuhan itu menjadi beban berat bagi Siti,” jelas Zera.
Usai mendengar kisah tersebut, Bripka Zera Janwara mengantar Siti dan Titin ke tujuan mereka menggunakan mobil dinas kepolisian, sekaligus mengantarkan keduanya hingga ke rumah kontrakan tempat mereka tinggal.

“Setelah melihat langsung kondisinya, memang sangat memprihatinkan. Untuk membayar kontrakan saja, mereka harus mengeluarkan Rp400 ribu per bulan,” ungkapnya.

Sebagai bentuk kepedulian, Zera juga berpesan kepada Siti agar tidak sungkan datang ke Polsek Cijulang jika membutuhkan bantuan, termasuk sekadar untuk meminta uang jajan demi melanjutkan sekolahnya. (Saefulloh/PasundanNews.com)