Kepala Desa Kujangsari, Ahmad Mujahid, saat melakukan test Biogas hasil karya inovasi putra daerahnya. Foto/Hermanto.PasundanNews.com

BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat menciptakan inovasi ramah lingkungan dengan mengolah limbah kotoran sapi menjadi sumber energi biogas untuk kebutuhan gas rumah tangga.

Program ini menjadi langkah nyata desa dalam memanfaatkan limbah ternak sekaligus menciptakan kemandirian energi di tingkat masyarakat.

Inovasi ini berawal dari ide akademisi sekaligus putra daerah, Aino Sukirno, yang menggagas pemanfaatan feses sapi melalui proses fermentasi anaerobik hingga menghasilkan biogas yang aman dan efisien.

“Pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi biogas sudah melalui uji coba dan aman digunakan masyarakat,” ujar Aino, Kamis (13/11/2025).

Hasil uji coba menunjukkan kapasitas biogas yang dihasilkan mencapai 12 meter kubik, sehingga ini mampu mencukupi kebutuhan gas untuk lima hingga enam rumah warga selama enam bulan.

Menariknya, api yang dihasilkan dari biogas ini tidak berbau kotoran dan dapat digunakan seperti gas LPG pada umumnya.

Aino menambahkan, instalasi biogas yang dikembangkan telah dilengkapi dengan filter penyaring gas metana sehingga aman dari risiko ledakan.

Baca Juga :Operasi Gabungan di Banjar Jaring 1.509 Kendaraan, Puluhan Pemilik Langsung Bayar Pajak di Tempat

“Kalau pun terjadi kebocoran, tidak akan meledak, hanya mengeluarkan api kecil,” jelasnya.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Kujangsari, Bumdes Kujangsari, dan Komunitas Pecinta Lingkungan Biru Karbon Nusantara. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model pengelolaan energi alternatif berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

Kepala Desa Kujangsari, Ahmad Mujahid, mengatakan bahwa inovasi ini bukan hanya menjawab kebutuhan energi, tetapi juga mengatasi persoalan lingkungan yang selama ini dihadapi warga.

“Dulu kotoran sapi menjadi masalah karena menimbulkan bau, sekarang justru membawa manfaat besar bagi warga,” ungkapnya.

Lebih jauh, sisa hasil pengolahan biogas berupa endapan limbah padat juga akan dimanfaatkan sebagai pupuk alami, sehingga memberikan nilai tambah bagi para petani lokal. Dengan demikian, program ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mendukung sektor pertanian.

“Kami berharap ke depan sistem biogas ini dapat diperluas ke kelompok masyarakat lain, agar seluruh warga Kujangsari bisa mandiri energi dan tidak bergantung pada gas dari Pertamina,” pungkas Mujahid.

(Hermanto/PasundanNews.com)