PASUNDANNEWS.COM – Memasuki enam dekade perjalanan Korps HMI Wati (KOHATI), penguatan sistem kaderisasi dinilai menjadi salah satu agenda penting.
Terutama dalam memastikan lahirnya kepemimpinan perempuan yang memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan menjawab persoalan masyarakat.
Ketua Bidang Pemberdayaan Umat Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Dini Asmiatul Amanah, mengatakan usia 60 tahun KOHATI perlu ditempatkan sebagai momentum evaluasi sekaligus penyiapan arah gerakan menghadapi perubahan zaman.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, dinamika sosial, ketimpangan, serta berbagai persoalan kemanusiaan menuntut kader perempuan memiliki kemampuan yang lebih adaptif.
“Enam puluh tahun perjalanan ini harus menjadi refleksi penting guna menjawab tantangan zaman yang bergerak cepat, mulai dari perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, perubahan sosial, ketimpangan, hingga krisis kemanusiaan,” ujar Dini dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).
Ia menilai ukuran keberhasilan kaderisasi tidak cukup dilihat dari bertambahnya jumlah perempuan yang menempati posisi kepemimpinan.
Lebih dari itu, kader yang berada di ruang strategis perlu memiliki kemampuan mengambil keputusan, mengelola persoalan, serta menjalankan amanah secara bertanggung jawab.
Dini juga mengajak kader KOHATI tidak terjebak pada perdebatan mengenai kemampuan perempuan berdasarkan dikotomi gender.
“Perhatian perlu diarahkan pada kualitas kepemimpinan, nilai yang dibawa, serta kontribusi konkret yang diberikan kepada masyarakat,” tambahnya.
Baca Juga :DPRD Ciamis Soroti Penguatan UMKM Desa, Dorong Legalitas hingga Akses Pasar Pemerintah
Kaderisasi Perlu Diperkuat dari Tingkat Dasar
Dini mendorong pembaruan kaderisasi KOHATI dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan, mulai dari struktur pengurus besar hingga tingkat komisariat.
Penguatan tersebut, kata dia, perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas kepemimpinan dengan tetap menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi.
“Prinsip siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah dinilai penting untuk membentuk karakter kader yang mampu menjalankan tanggung jawab di berbagai ruang pengabdian,” jelas Dini.
Selain pembenahan proses internal, KOHATI juga dinilai perlu memperluas pola pendampingan dengan membangun mentoring lintas generasi.
Alumni yang telah memiliki pengalaman di berbagai bidang dapat dilibatkan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman organisasi, dan perspektif profesional kepada kader.
Pola tersebut diharapkan dapat membentuk kesinambungan kader kepemimpinan perempuan.
Sehingga kader KOHATI memiliki kesiapan ketika memasuki sektor-sektor strategis, termasuk pendidikan, pemerintahan, politik, dunia usaha, teknologi, dan bidang sosial kemasyarakatan.
“Refleksi 60 tahun KOHATI bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan tentang mempersiapkan masa depan. Kepemimpinan yang berkualitas tidak dapat lahir dari proses yang instan, melainkan melalui proses belajar sepanjang hayat dan jalan pengabdian,” kata Dini.
Momentum enam dekade tersebut pada akhirnya diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan perjalanan organisasi.
“Melainkan menjadi titik penguatan kaderisasi agar KOHATI mampu menyiapkan generasi perempuan yang memiliki kompetensi sekaligus komitmen terhadap nilai dan pengabdian,” tandasnya.(Herdi/PasundanNews.com)



















































