BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Anak-anak Sakola Motekar Ciamis membawa karya sastra Sunda ke atas panggung dengan cara yang tidak biasa dalam Hajatan Sastra Rumah Koclak 2026.
Mereka mengolah fiksimini ‘Kasorot Poé’ karya sastrawan Sunda Godi Suwarna menjadi sebuah pertunjukan dramatisasi.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis pada 11-12 September 2026.
Kehadiran Sakola Motekar menjadi salah satu bentuk eksplorasi seni pertunjukan yang mempertemukan dunia sastra dengan ekspresi tubuh, suara, gerak, serta permainan suasana.
Pemilihan Kasorot Poé bukan tanpa alasan. Fiksimini memiliki karakter cerita yang singkat dan padat, namun menyimpan pengalaman emosional yang cukup luas.
“Tantangan bagi para pemain bukan hanya menyampaikan isi cerita, tetapi juga menghadirkan suasana yang tersirat di balik rangkaian kata,” ujar Pegiat Sakola Motekar Deni Weje, Selasa (15/9/2026).
Cerita tersebut menggambarkan suasana halaman tempat anak-anak bermain menjelang petang. Riuh permainan, nyanyian, kendang dan goong membangun suasana yang semula penuh kehidupan.
Baca Juga :Rumah Pustaka dan Pemkab Ciamis Bersinergi Perkuat Budaya Literasi Generasi Muda
Namun, situasi perlahan berubah ketika matahari mulai tenggelam. Anak-anak lain meninggalkan halaman, sementara seorang tokoh tetap berada di sana.
“Kesunyian yang muncul setelah keramaian menjadi bagian penting dari pengalaman emosional yang ditawarkan cerita,” jelasnya.
Dari situasi sederhana tersebut, anak-anak Sakola Motekar belajar memahami beragam rasa, mulai dari kegembiraan saat bermain, keinginan untuk diterima dalam kelompok, rasa sepi, hingga kesadaran bahwa setiap kebersamaan memiliki waktu untuk berakhir.
“Proses dramatisasi kemudian menjadi pengalaman belajar tersendiri,” ungkap Deni Weje.
Para peserta tidak hanya dituntut menghafal bagian cerita atau mengatur gerakan di atas panggung, tetapi juga memahami bagaimana emosi dapat disampaikan tanpa selalu harus dijelaskan melalui kata-kata.
Suasana, ritme permainan, gestur, tatapan dan interaksi antarpemain menjadi medium untuk menyampaikan pesan cerita.
Dengan pendekatan tersebut, anak-anak diajak mengenal sastra melalui pengalaman langsung, bukan semata-mata melalui pembacaan teks.
Baca Juga :Aris Hidayat Siapkan 8 Agenda Prioritas untuk Desa Mekarmulya di Pilkades 2026
Bagi Sakola Motekar, keterlibatan dalam Hajatan Sastra Rumah Koclak 2026 juga menjadi ruang untuk memperluas cara anak-anak mengekspresikan diri.
“Teks yang sebelumnya berada di atas halaman kemudian mengalami proses interpretasi dan menemukan bentuk baru ketika dimainkan di hadapan penonton,” paparnya.
Pendekatan semacam ini membuat pembelajaran sastra terasa lebih dekat dengan kehidupan anak.
Pengalaman sederhana seperti menunggu giliran bermain, melihat teman-teman pulang, menikmati keramaian, hingga menghadapi halaman yang mendadak sunyi dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sebuah karya.
Bagian akhir Kasorot Poé menghadirkan kesan reflektif. Tokoh “kuring” digambarkan berdiri sendiri sambil memandangi tanah yang masih mendapat cahaya terakhir matahari.
Sisa kegembiraan dari hari yang telah dilalui seolah menjadi kenangan yang dibawa pulang.
Pementasan tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai sebuah karya sastra. Bagi anak-anak Sakola Motekar, panggung menjadi tempat untuk belajar keberanian, memahami emosi, membangun kerja sama, sekaligus mengenali lingkungan melalui cerita.
Hajatan Sastra Rumah Koclak 2026 juga menunjukkan bahwa sastra dapat diperkenalkan kepada generasi muda melalui beragam medium. Puisi, musik, monolog, tari maupun fiksimini dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan imajinasi dan keberanian anak dalam berekspresi.
“Ruang-ruang kreatif seperti yang dihadirkan Rumah Koclak menjadi penting karena memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk tidak hanya membaca dan memahami karya sastra, tetapi juga mengalami serta menghidupkannya melalui pertunjukan,” pungkasnya.(Hendri/PasundanNews.com)



















































