Sayyid Romidzauq (Aang Sayyid) saat berbicara di acara Maiyah Kenduri Cinta Jakarta beberapa waktu lalu. Foto/Istimewa

BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Fenomena viralnya seorang bocah berusia 10 tahun asal Kabupaten Ciamis, Sayyid Romidzauq atau yang akrab disapa Aang Sayyid, menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.

Decak kagum warganet muncul setelah menyaksikan potongan video yang memperlihatkan keberanian Aang dalam menyampaikan gagasan di sebuah forum diskusi dengan pilihan kata yang sangat terstruktur dan tenang.

Gaya bicaranya yang argumentatif bahkan dinilai melampaui rata-rata anak seusianya, sehingga banyak yang menyamakannya dengan kualitas pembicara dewasa.

Di balik kematangan komunikasi tersebut, terdapat proses pendidikan menarik yang berlangsung di Sakola Motèkar, sebuah ruang belajar warga yang berlokasi di Kampung Cibunar, Kabupaten Ciamis.

Di lingkungan ini, anak-anak tidak hanya dibekali dengan pengetahuan akademik formal, tetapi juga dibiasakan untuk aktif membaca, berdiskusi, serta mempresentasikan pemikiran mereka di hadapan orang lain.

Baca Juga :Forum Konsultasi Publik, Sekda Ciamis Dorong Inovasi Program Pembangunan

Model pendidikan ini menekankan pada semangat merdeka belajar, di mana setiap anak diberikan ruang seluas-luasnya untuk mengeksplorasi minat pribadi dan mencari referensi sebelum akhirnya mengutarakan isi pikiran mereka secara terbuka.

Pegiat Sakola Motèkar, Deni WeJe, mengungkapkan bahwa kemahiran Aang bukanlah sebuah kebetulan yang muncul secara instan, melainkan tumbuh dari kebiasaan belajar yang konsisten di lingkungannya.

Menurutnya, anak-anak di Sakola Motèkar memang didorong untuk berani menyampaikan pendapat sendiri tanpa harus merasa takut salah, karena fokus utamanya adalah melatih kemandirian berpikir dan keberanian berbicara.

“Meskipun menggunakan pendekatan berbasis komunitas, lembaga ini tetap menjamin aspek legalitas bagi peserta didiknya melalui Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan afiliasi dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sehingga para siswa tetap bisa memperoleh ijazah resmi melalui jalur pendidikan kesetaraan,” paparnya, Jumat (13/3/2026).

Keunikan praktik pendidikan di Sakola Motèkar kini menarik perhatian luas, mulai dari peneliti akademis dalam dan luar negeri hingga berbagai komunitas yang datang untuk melakukan studi banding.

Kisah sukses Aang Sayyid menjadi pengingat penting bahwa potensi besar seorang anak dapat berkembang secara optimal jika didukung oleh lingkungan yang menghargai kebebasan berpikir kritis sejak dini.

Bagi publik yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai aktivitas belajar di sana, informasi secara lengkap dapat diakses melalui kunjungan langsung ke Kampung Cibunar atau melalui kanal media sosial resmi mereka. (Hendri/PasundanNews.com)