BERITA PANGANDARAN, PASUNDANNEWS.COM– Karsem (60), warga Dusun Empangsari, Desa/Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, berjuang merawat suami dan anaknya yang mengidap kanker.
Di tengah keterbatasan ekonomi, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendampingi keduanya menjalani pengobatan.
Suaminya, Mansur (65), menderita tumor ganas yang telah diidap sekitar satu setengah tahun. Untuk membiayai pengobatan, keluarga ini terpaksa menjual kebun yang menjadi sumber penghidupan serta dua sepeda motor milik mereka.
Kini, Karsem harus menghadapi persoalan ekonomi yang semakin sulit. Ia juga harus mendampingi anaknya yang menderita kanker lidah dan disebut akan menjalani operasi.
“Ya Allah, ujian ini berat-berat sekali, semoga saya kuat,” ucap Karsem saat menceritakan kondisi keluarganya kepada PasundanNews, Kamis (17/9/2026).
Selama merawat suaminya, Karsem rutin mengantar Mansur menjalani pemeriksaan ke Rumah Sakit Margono, Jawa Tengah. Keterbatasan biaya membuat perjalanan menuju rumah sakit menjadi tantangan tersendiri.
Dulu, Karsem menyewa mobil dengan biaya sekitar Rp600 ribu sekali perjalanan. Namun, setelah kondisi keuangan semakin sulit, ia dan suaminya terpaksa menggunakan sepeda motor.
Mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00 WIB dan tiba di rumah sakit pukul 07.00 hingga 07.30 WIB.
Baca Juga :Jurnalis Ciamis Gelar Doa dan Dzikir untuk Lima Wartawan yang Hilang di Anak Krakatau
“Kalau pakai mobil sudah enggak ada uang. Jadi pakai motor, gantian. Berangkat dari sini jam empat subuh, sampai sana sekitar jam setengah delapan,” tuturnya.
Biaya transportasi sebelumnya juga masih menyisakan utang sekitar Rp3,5 juta. Untuk memenuhi kebutuhan perjalanan berobat, Karsem terkadang meminjam uang kepada orang lain dan mengembalikannya setelah menerima bantuan sosial. “Masih ada yang belum kebayar,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Karsem berusaha mencari penghasilan dengan membuat keripik gadung untuk dijual. Ia harus mencari bahan baku ke kawasan hutan yang cukup jauh. Sambil mencari gadung, ia juga mengumpulkan lidi untuk dibuat menjadi sapu.
Setibanya di rumah, Mansur yang kondisinya terbatas masih berusaha membantu mengolah gadung tersebut.
“Kalau saya bikin keripik gadung. Gadungnya nyari ke alas, jauh. Sambil nyari sapu lidi. Nanti di rumah Pak Mansur yang ngerautin,” kata Karsem.
Keripik gadung buatannya dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram. Penghasilan itu membantu memenuhi kebutuhan keluarga, meski penjualan bergantung pada pesanan. “Kalau ada yang pesan dijual,” ujarnya.
Sebelum sakit, Mansur bekerja sebagai sopir pengangkut gula. Kini, ia tidak lagi mampu bekerja seperti dahulu. Sesekali, ia masih berusaha mencari penghasilan dengan menambal ban.
“Kalau nambal ban masih bisa maksain. Kalau nyuci mobil belum sanggup,” kata Karsem.
Bantuan sosial yang diterima keluarga tersebut digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk membayar utang dan membeli bahan makanan.
Baca Juga :Diduga Akibat Korsleting Listrik, Kantor Setda Kota Banjar Kebakaran
Karsem mengaku harus mengatur pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. “Ya dicukup-cukupi lah. Buat makan mah alhamdulillah,” tuturnya.
Karsem juga bersyukur keluarganya beberapa waktu lalu menerima bantuan beras. Namun, bantuan tersebut belum menghilangkan kesulitan yang mereka hadapi, terutama untuk membiayai pengobatan suami dan anaknya.
Saat masih mendampingi Mansur menjalani pengobatan, Karsem kembali mendapat kabar bahwa anaknya menderita kanker lidah dan akan menjalani operasi.
“Udah itu saya enggak ngurus itu (suami), ketemu lagi anak yang itu. Besar banget (kankernya), mau dioperasi, kangker lidah lagi,” katanya.
Kondisi tersebut membuat Karsem harus membagi tenaga dan perhatian untuk mendampingi dua anggota keluarganya yang membutuhkan perawatan.
Sementara itu, kemampuan ekonominya semakin terbatas setelah kebun dan dua sepeda motor dijual untuk membiayai pengobatan Mansur.
Meski demikian, Karsem tetap berusaha mencari penghasilan dan merawat keluarganya. Ia berharap suami dan anaknya bisa mendapatkan pengobatan hingga pulih.
“Berjuang aja, berjuang sendiri. Mudah-mudahan ada kesembuhan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. (Deni Rudini/Pasundannews.com)



















































