Foto/Istimewa

BERITA OLAHRAGA, PASUNDANNEWS.COM – Kejadian nahas di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur berimbas hukuman FIFA untuk Indonesia.

Namun, di sisi lain, PSSI mendapat tudingan miring mulai dari korupsi hingga tak becus menangani masalah di suporter yang masuk ke lapak, yang sudah jadi masalah tahunan di sepakbola Indonesia.

Diketahui, pada kejadian di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa, Timur Sabtu (1/10/2022) lalu, usai pertandingan Arema FC vs Persela, kericuhan terjadi.

Setidaknya 130 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka, melansir laman Tribun Jatim, Selasa (4/10/2022).

Sanksi FIFA menanti, selain karena jumlah korban yang banyak, pada kericuhan tersebut juga jelas ada penggunaan gas air mata oleh polisi yang melanggar regulasi yang ditetapkan FIFA.

Bukan tak mungkin, FIFA juga akan memberikan hukuman ke klub Indonesia. Mengingat banyaknya korban jiwa yang muncul atas kericuhan tersebut.

Apalagi, sudah ada pelanggaran terhadap Regulasi Keselamatan dan Keselamatan Stadion, pada pasal 19b pengaman pinggir lapangan.

Pada aturan itu menyebutkan senjata atau gas pegendali massa tidak boleh dibawa atau digunakan di dalam stadion.

Sedangkan gas air mata digunakan kepolisian untuk mengurai kerumunan suporter, dan disebut berperan memperbesar jumlah korban.

Jika disanksi, hal itu jelas akan menjadi kerugian bagi Indonesia, mengingat akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada tahun depan.

Tudingan Korup untuk PSSI

Sementara itu, PSSI mendapat sorotan negatif dari media luar negeri, tragedi Kanjuruhan mengungkap borok sepak bola Indonesia.

Dua media Inggris, The Guardian dan The Athletic, sampai membuat kolom khusus untuk menyoroti sepak bola Indonesia.

Di The Guardian, kolomnis John Duerden menyatakan gairah suporter Indonesia memang yang terbaik di Asia, tetapi hal itu kerap mendatangkan tragedi.

“Semua orang yang menghadiri pertandingan di Indonesia dapat merasakan itu memang bisa menjadi pengalaman menakjubkan,” tulis Duerden (2/10/2022).

Duerden juga menyoroti otoritas sepak bola Indonesia (dalam hal ini PSSI) yang gagal mengatasi masalah tahunan di lingkup suporter.

“Otoritas (PSSI) kesulitan menyelesaikan itu semua, tidak terbantu dengan inkompetensi, korupsi, dan salah urus,” terang Duerden.

“Popularitas sepak bola membuat para pemimpin (politisi) menggunakannya untuk kepentingannya sendiri, dan sedikit peduli tentang bagaimana itu (sepak bola) beroperasi.”

Simon Hughes dari The Athletic juga menurunkan laporan saksi mata terkait kejadian mengerikan di Kanjuruhan.

The Athletic menggarisbawahi kebiasaan buruk suporter Indonesia yang turun ke lapangan saat hasil buruk melanda timnya.

“Invasi ke lapangan bukan hal asing di sepak bola Indonesia, di mana tim-tim dengan hasil buruk terbiasa didemonstrasi yang menggambarkan kekecewaan orang-orang,” tulis Simon Hughes.

The Athletic tak ragu menyebut polisi sebagai biang kekacauan di lapangan dan tribun Stadion Kanjuruhan.

“Kali ini, polisi tidak menunggu apakah situasi menjadi lebih buruk (untuk melepas gas air mata).”

Gas air mata ditembakkan ke kerumunan yang membuat banyak orang di lapangan dan tribun, kesulitan mendapatkan udara, berlarian ke arah yang sama (pintu keluar).”

Sementara itu, belum ada penetapan terkait siapa paling bertanggung jawab atas insiden berdarah ini.

PSSI menyatakan Liga 1 2022/23 dihentikan hingga waktu tak ditentukan, dan publik ragu akan ada yang dihukum. (Herdi/PasundanNews.)

 

Artikel sebelumyaBuntut Tragedi Kanjuruhan, Valentino Simanjuntak Mundur dari Komentator Liga 1 2022/2023
Artikel berikutnyaResmi, Kapolres Malang Dicopot Imbas Tragedi Kanjuruhan