BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Sebanyak 93 pekerja kebersihan atau pesapon di Kota Banjar Jawa Barat harus mengakhiri pengabdian panjang mereka setelah tidak lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Keputusan ini diumumkan dalam pertemuan haru di Pendopo Kota Banjar, Senin (30/6/2025). Keputusan pahit tersebut disambut isak tangis dan keheningan dari mereka yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kebersihan kota.
Para pesapon ini bukan orang baru, mereka adalah wajah-wajah yang kerap terlihat di sudut-sudut jalan sejak dini hari, menyapu, mengangkut sampah, menjaga agar kota tetap bersih sebelum warganya terbangun.
“Kami tidak banyak berharap, hanya ingin tetap bekerja seperti biasa. Namun dengan keputusan ini, saya hanya bisa pasrah,” ucap salah satu pesapon, Dedi, yang telah mengabdi kurang lebih selama 22 tahun.
Namun, nasib berkata lain. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjar, Eri Kusuma Wardhana, menjelaskan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) ini tidak bisa dihindari.
“Dua kendala utama adalah batas usia yang sudah lewat dan ketiadaan ijazah yang menjadi syarat administrasi P3K,” jelasnya dengan nada berat.
Baca Juga :Polisi Ungkap Kasus Pencurian Motor di Pasar Banjar, Dua Pelaku Ditangkap
Mereka yang selama ini menerima upah antara Rp700.000 hingga Rp1.200.000 per bulan, kini hanya membawa pulang bantuan perpisahan sebesar Rp600.000 dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Jumlah yang terasa jauh dari cukup untuk menyambung hidup, apalagi bagi mereka yang sudah lanjut usia dan sulit mendapatkan pekerjaan lain.
Salah satu momen paling menyayat hati terjadi saat para pesapon berkumpul untuk terakhir kalinya dalam tugas resmi mereka. Tak sedikit dari mereka yang menitikkan air mata, menggenggam sapu tua yang selama ini menjadi teman setia.
Wali Kota Banjar, Ir. H. Sudarsono, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pesapon.
“Kami ingin mempertahankan semuanya, tapi ada aturan yang tidak bisa kami abaikan. Kami ucapkan terima kasih setinggi-tingginya atas jasa dan pengabdian mereka,” ujarnya dengan suara bergetar.
Sudarsono juga memberi penghormatan kepada mereka yang disebutnya sebagai pahlawan di balik keberhasilan Kota Banjar meraih penghargaan Adipura.
“Setiap pagi, mereka sudah ada di jalan, membersihkan kota. Mereka adalah teladan sejati bagi kita semua,” tuturnya.
Di tengah penghargaan dan pujian, namun kenyataan tetap pahit. Puluhan pengabdi kebersihan kini harus menapaki hari esok tanpa kepastian.
Mereka yang selama ini diam bekerja tanpa banyak suara, kini hanya bisa berharap ada tangan-tangan lain yang peduli.
Kisah mereka mengingatkan bahwa di balik gelar kota terbersih, ada peluh dan pengorbanan yang kerap luput dari perhatian. Dan ketika semua usai, yang tersisa hanyalah kenangan dan sapaan lirih di jalanan yang pernah mereka rawat dengan hati.
(Hermanto/PasundanNews.com)



















































