BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Suasana Lembur Kaulinan Cibunar di lingkungan Sakola Motèkar, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, dipenuhi keceriaan ratusan peserta yang mengikuti Festival Kaulinan Lembur, Sabtu (4/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus sarana edukasi yang memperkenalkan kembali permainan tradisional Sunda kepada berbagai kalangan.
Sekitar 150 peserta dari beragam latar belakang, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa hingga ibu rumah tangga, terlibat aktif dalam berbagai kaulinan tradisional yang dikemas secara interaktif.
Festival ini selain menghadirkan hiburan, juga menanamkan nilai-nilai sosial dan budaya yang terkandung dalam setiap permainan.
Rangkaian acara diawali dengan kegiatan Medar Kaulinan, di mana seluruh peserta bermain bersama sambil menyanyikan kawih kaulinan Sunda seperti Oray-orayan, Surser, dan Paciwit-ciwit Lutung.
Iringan musik tradisional dari kelompok Swaranarasa serta Dangiang Gentra Wirahma Galuh menambah semarak suasana dan memperkuat nuansa budaya Sunda yang kental.
Setelah itu, peserta diarahkan ke sejumlah arena permainan tradisional seperti egrang, bakiak, sapintrong, congklak, bekles, dan berbagai kaulinan lainnya.
Setiap permainan dipandu fasilitator yang tidak hanya mengajarkan cara bermain, tetapi juga menjelaskan filosofi dan nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya, seperti kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, hingga kepemimpinan.
Baca Juga :HMI Ciamis Apresiasi Kejari, Dorong Tindak Lanjuti Oknum Dapur MBG Bermasalah
Festival tersebut turut menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Brawijaya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Tasikmalaya, Universitas Siliwangi, Universitas Perjuangan Tasikmalaya, serta Universitas Islam Darussalam Ciamis.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari studi lapangan terkait pengembangan dan pemajuan kebudayaan berbasis masyarakat.
Sejumlah pejabat daerah juga hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ciamis, Kepala Bidang Kebudayaan, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, serta Kepala Satpol PP Kabupaten Ciamis.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ciamis, Dr. Dian Budiyana, M.Si., menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan festival yang dinilai mampu menjawab tantangan pelestarian budaya di era digital.
Menurutnya, ketika sebagian besar anak-anak saat ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan perangkat digital, kegiatan berbasis permainan tradisional justru mampu menghadirkan ruang interaksi sosial yang sehat sekaligus memperkenalkan identitas budaya kepada generasi muda.
Baca Juga :Tower 40 Meter di Kota Banjar Roboh saat Dibongkar, Dua Pekerja Meninggal Dunia
“Festival ini menunjukkan bahwa budaya dapat dikemas secara menarik dan tetap relevan dengan kehidupan masa kini. Anak-anak diajak bergerak, berinteraksi, dan mengenal akar budayanya. Ini bukan sekadar kegiatan hiburan, tetapi gerakan kebudayaan yang patut terus dikembangkan,” ujarnya.
Dian juga menilai keberadaan Yayasan Sarasa Duduluran Salawasna telah memberikan kontribusi nyata dalam mengembangkan kegiatan budaya yang berdampak luas bagi masyarakat.
Ia menyebut Lembur Kaulinan Cibunar kini mulai dikenal sebagai ruang pembelajaran budaya yang menginspirasi berbagai daerah.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Festival Kaulinan Lembur, M. Rizky Ramdani, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan budaya yang dikembangkan Yayasan Sarasa Duduluran Salawasna bersama komunitas Sakola Motèkar dalam mengelola Lembur Kaulinan Cibunar sebagai pusat edukasi budaya berbasis masyarakat.
Ia menegaskan, permainan tradisional memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menjaga warisan leluhur.
Menurutnya, kaulinan tradisional dapat menjadi media efektif untuk mengatasi berbagai persoalan sosial yang dihadapi anak dan keluarga saat ini, seperti ketergantungan terhadap gawai, minimnya aktivitas fisik, serta berkurangnya ruang interaksi sosial.
Baca Juga :Diduga Lakukan Pemerasan, Empat Oknum Ngaku Wartawan di Ciamis Diamankan Polisi
“Permainan tradisional masih sangat relevan dengan kebutuhan masa sekarang. Melalui kaulinan, anak-anak belajar berkolaborasi, menghormati sesama, mengembangkan kreativitas, dan menikmati proses belajar yang menyenangkan. Budaya harus hadir sebagai solusi bagi tantangan kehidupan modern,” kata Rizky.
Selain menyasar anak-anak, pengelola Lembur Kaulinan Cibunar juga terus mengembangkan konsep parenting berbasis budaya dengan melibatkan orang tua dalam berbagai aktivitas permainan tradisional.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempererat hubungan keluarga melalui kegiatan yang sarat nilai kebersamaan.
Rizky menambahkan, penyelenggaraan Festival Kaulinan Lembur tahun ini memperoleh dukungan dari Program Layanan Fasilitasi Bidang Kebudayaan bagi Komunitas dan Pelaku Budaya melalui kategori Dukungan Institusional bagi Keberlanjutan Organisasi Kebudayaan yang bersumber dari pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan (Dana Indonesiana).
Dukungan tersebut, lanjutnya, menjadi motivasi untuk terus mengembangkan Lembur Kaulinan Cibunar sebagai ruang belajar budaya yang terbuka bagi masyarakat.
“Semoga keberadaan Sakola Motekar dapat terus tumbuh menjadi pusat aktivitas budaya yang memberikan manfaat nyata bagi generasi sekarang maupun mendatang,” pungkasnya.(Hendri/PasundanNews.com)



















































