BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Masyarakat Kampung Siluman, Kelurahan Purwaharja, Kota Banjar, kembali menggelar tradisi Ngabumi yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-8.
Kegiatan yang berlangsung di Situs Pulomajeti, Senin (22/6/2026), menjadi momentum untuk menjaga keberlangsungan budaya leluhur sekaligus menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda di tengah pesatnya perkembangan zaman.
Tradisi tahunan yang digagas Kawargian Majeti tersebut diisi dengan sejumlah prosesi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Mulai dari nyangkreb, mipit, kirab budaya hingga pelepasan benih ikan ke perairan setempat, seluruh rangkaian kegiatan menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas karunia alam dan kehidupan yang mereka jalani.
Ketua Panitia Ngabumi VIII, Rusrudin, menjelaskan pelaksanaan tahun ini mengusung makna filosofis angka delapan yang melambangkan keberlanjutan serta terbukanya jalan bagi upaya pelestarian budaya.
Menurutnya, perjalanan Ngabumi yang telah berlangsung selama delapan tahun menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga identitas budaya lokal.
Ia menuturkan, Ngabumi bukan sekadar perayaan adat, melainkan sarana untuk menyampaikan pesan-pesan leluhur yang sarat makna.
Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi perhatian utama agar nilai-nilai budaya yang diwariskan tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Baca Juga :Turnamen Bola Voli dan Haul Bung Karno Warnai Peringatan Bulan Bung Karno di Kota Banjar
“Yang paling penting bukan hanya menjaga acara ini tetap berlangsung, tetapi memastikan generasi muda memahami filosofi dan makna dari setiap tradisi yang dijalankan,” kata Rusrudin.
Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah kirab budaya yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Melalui prosesi tersebut, warga, khususnya kalangan muda, diajak mengenal sejarah Kampung Siluman sekaligus memahami nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
“Tidak hanya menonjolkan aspek budaya, Ngabumi VIII juga menghadirkan pesan pelestarian lingkungan,” tutur Rusrudin.
Hal itu diwujudkan melalui prosesi ngelarung sekitar 2.000 ekor benih ikan yang menjadi simbol keseimbangan hubungan manusia dengan alam.
Tradisi tersebut mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem sebagai sumber kehidupan yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Suasana semakin semarak dengan berbagai pertunjukan seni tradisional yang ditampilkan oleh Sanggar Tari Kinanti Ligar, Dangiang Putra Raharja, dan Gundala.
Pada malam harinya, masyarakat disuguhkan drama tari serta sejumlah pertunjukan budaya lainnya yang memperkaya rangkaian acara.
Ngabumi VIII juga mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sejumlah unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta budayawan dari berbagai daerah hadir dalam kegiatan tersebut.
Bahkan, perwakilan budayawan dari Papua turut berpartisipasi sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya lokal yang terus dijaga masyarakat Kampung Siluman hingga saat ini.(Hermanto/PasundanNews.com)



















































