Beranda Ragam

Warga Sindanglangu Harapkan Relokasi, Setelah Alami Pergerakan Tanah dan Amblasnya Jalan

Warga bergotong royong membenahi Jalan pasca pergerakan tanah yang menghantam jalan desa tepatnya di wilayah Kampung Sindanglangu, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur (Poto: Farhan)

CIANJUR – Pasca pergerakan tanah yang menghantam jalan desa tepatnya di wilayah Kampung Sindanglangu, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur sejumlah warga mengharapkan relokasi. Saat ini akses jalan sampai saat ini belum bisa dilewati kendaraan roda empat.

Pantauan di lapangan bencana longsor dan pergerakan tanah terjadi di Kedusunan 04 Desa Batulawang, mengakibatkan, jalan sepanjang 200 meter amblas, dan rumah warga terancam amblas.

Mantan anggota DPRD Kabupaten Cianjur, Endang Sahril mengatakan pergeseran tanah itu menimbulkan jalan kampung Sindanglangu amblas dan retakan menjalar.

“Akses jalan rabat beton itu amblas, berdampak terhadap lajunya perekonomian rakyat khususnya angkutan hasil pertanian terganggu,” ujar tokoh masyarakat dan juga mantan anggota DPRD Kabupaten Cianjur yang berdomisili di Desa Batulawang.

Baca Juga: Usai Operasi Cipkon, Polsek Pacet Amankan Pasangan Mesum

Menurut H. Endang Sahril yang juga mantan Kepala Desa Batulawang, Cipanas, di wilayah tersebut bisa dibilang langganan pergeseran tanah, dan sewaktu-waktu bisa terjadi lagi lantaran struktur tanahnya labil.

“Maka perkampungan di sekitar Sindanglangu dan Kampung Tajurkulon perlu direlokasi termasuk akses jalan harus dipindahkan,” tandasnya.

Sementara, Bhabinkamtibmas bersama Babinsa serta dari perangkat desa selalu memantau ke lokasi tersebut terlebih setelah hujan turun. “Akibat pergeseran tanah yang menerjang ruas jalan Sindanglangu mengalami keamblasan panjangnya sekitar 200 meter, pergeseran tanah terjadi pula di wilayah kampung Tajurkulon,” ucap Bhabinkamtibmas Desa Batulawang Cipanas, Iptu Yayat.

Dia mengimbau, demi keselamatan bersama, warga harus hati-hati mengendarai motor saat melintas jalan Sindanglangu, dan mewaspadi curah hujan intensitas tinggi.

“Jika ada tanda-tanda atau terjadi pergerakan tanah cepat melaporkan,” jelasnya.

Koordinator Desa (Kordes) Retana Desa Batulawang, Risman Munandar mengatakan, di wilayah Kedusunan 04 Desa Batulawang telah terjadi dua bencana sekaligus, yaitu tebing setinggi 100 meter yang mengalami longsor dan bencana pergerakan tanah yang menyebabkan jalan serta rumah warga retak dan terancam amblas.

“Bencana longsor dan pergerakan tanah di Kedusunan 04 Desa Batulawang ini terjadi karena hujan yang turun terus-menerus, sehingga mengakibatkan tanah gembur dan terus bergerak sampai saat ini,” ujarny.

Risman mengungkapkan, bencana longsor terjadi di Kampung Tanjakan RT 01/RW 10 sekitar pukul 03.00 Wib, sementara itu pergerakan tanah tersebut terjadi di Kampung Sindanglangu RT 11/RW 11 dan Kampung Tajur RT 04/RW 12, mulai pada Minggu (7/2/2021) sekitar jam 11.00 Wib dan rawan terjadi pergerakan tanah susulan.

Baca Juga: Kartu PraKerja Gelombang 12 Dibuka, Simak Pembuatan Akunnya di www.prakerja.go.id

“Akibat kejadian longsor tersebut, jalan menuju rumah dan kebun warga hingga menuju vila terputus. Selain itu pergerkan tanah empat rumah warga terancam terbawa pergerakan tanah. Bahkan satu rumah di antaranya dikosongkan karena mengalami kondisi parah dan tiga lainnya masih ditempati karena tidak terlalu parah,” ucapnya.

Menurut Warga Kampung Tajur RT 04/RW 12 yang juga merupakan salah satu pemilik rumah yang menjadi korban pergerakan tanah, Ujang Kodir (53) mengatakan, bencana pergeseran tanah yang menimpa rumahnya terjadi pada Minggu (7/2/2021) kemarin sekitar jam 11.00 Wib saat hujan deras.

“Kejadian kemarin terjadi sekitar jam 11.00 Wib saat hujan deras. Waktu itu saya lagi di rumah bersama istri dan dua anak saya. Ketika saya melihat keluar lahan sawah pinggir rumah, saya kaget karena lantai rumah terasa bergerak dan menggumpal seperti air, namun langsung retak,” paparnya.

Setelah melihat situasi tersebut, Ujang berserta anggota keluarganya pun langsung mengungsikan diri ke tempat anaknya yang lain, karena lebih aman. Sementara rumahnya dibiarkan kosong, karena dikhawatirkan retakan tersebut semakin membesar.

“Saat ini saya mengungsi ke rumah anak saya untuk sementara, karena ditakutan kondisi retakan semakin lebar. Sebab saat ini saja, rumah saya sudah menggeser sejauh 30 sentimeter. Saya mengharapkan ada upaya pemerintah untuk menangani bencana alam ini seperti dengan melakukan relokasi ke tempat yang lebih aman,” tukasnya.(Fhn)