BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Kabupaten Ciamis menjadi ruang belajar terbuka bagi mahasiswa Universiti Malaysia Terengganu (UMT) untuk memahami konsep kepemimpinan transformatif melalui kehidupan masyarakat.
Selama 15–17 Agustus 2026, para mahasiswa mengikuti rangkaian kegiatan di Sakola Motèkar, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya.
Mereka tidak hanya menerima materi akademik, tetapi terlibat langsung dalam aktivitas warga, mulai dari mengelola kebun hingga mengenal kesenian tradisional.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari SBM ITB Short Program 2026 bertajuk Building Transformative Leaders: Understanding Contemporary Empowerment, Sustainability, and Inclusivity.
Program yang digagas Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) itu menerapkan pendekatan experiential learning dan participatory action research.
Melalui metode tersebut, mahasiswa didorong untuk memahami pemberdayaan masyarakat dengan cara mengalami sendiri proses yang berlangsung di lingkungan komunitas.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan ke Kampung Kerukunan Ciamis. Setelah itu, peserta menuju Sakola Motèkar untuk berbaur dengan masyarakat melalui musik, permainan tradisional dan aktivitas budaya.
Pada hari berikutnya, peserta diperkenalkan pada berbagai kegiatan produktif yang berlangsung di lingkungan Sakola Motèkar. Mereka melihat langsung aktivitas perkebunan, peternakan, produksi pupuk, pengolahan pangan serta keterkaitannya dengan unit usaha masyarakat.
Pengalaman tersebut kemudian dilanjutkan melalui sejumlah kegiatan praktik. Para mahasiswa mencoba membuat sabun dan sampo, mengolah minuman berbahan herbal hingga menghasilkan alat permainan.
Konsep pembelajaran terpadu dan ekonomi sirkular pun diperkenalkan melalui pengalaman langsung, sehingga peserta dapat melihat hubungan antara pemanfaatan sumber daya, kreativitas masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga :Sebanyak 228 Warga Binaan Lapas Ciamis Terima Remisi HUT RI, Empat Diantaranya Bebas
“Mahasiswa tidak hanya mengamati, tetapi turut serta mengalami langsung aktivitas bersama warga. Melalui Sakola Motèkar, mereka bisa melihat bagaimana inklusivitas, kemandirian komunitas dan kolaborasi berjalan secara nyata,” kata Tedi Yuliandyi, perwakilan panitia sekaligus dosen pelaksana SBM ITB, Senin (17/8/2026).
Selain aspek pemberdayaan, peserta juga memperoleh pengalaman kebudayaan. Mereka berlatih memainkan gamelan dan mempelajari wayang golek. Menariknya, materi yang dipelajari pada siang hari kemudian dipentaskan pada malam harinya.
Aktivitas tersebut membuat mahasiswa tidak hanya mengenal kebudayaan Indonesia secara teoritis, tetapi berkesempatan menjadi bagian dari proses pelestariannya bersama masyarakat.
Sakola Motèkar Jadi Ruang Pertemuan Akademik dan Masyarakat
Program tahun ini sekaligus memperpanjang rekam jejak Sakola Motèkar sebagai tempat pembelajaran internasional yang digagas bersama SBM ITB.
Sejak 2022, komunitas tersebut telah beberapa kali menerima mahasiswa dari luar negeri. Pada 2022, mahasiswa dari The University of Queensland, Australia, mengikuti pembelajaran di Sakola Motèkar.
Setahun berselang, peserta internasional dari sejumlah negara yang berasal dari empat benua kembali hadir. Kemudian pada 2024, mahasiswa New York University (NYU), Amerika Serikat, menjadikan Sakola Motèkar sebagai salah satu lokasi pembelajaran dalam program internasional SBM ITB.
Pada 2026, giliran mahasiswa Universiti Malaysia Terengganu yang mengikuti proses belajar berbasis pengalaman tersebut.
Pegiat Sakola Motèkar, Deni Wahyu Jayadi, menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa internasional tidak diarahkan untuk menempatkan warga sebagai objek penelitian maupun pembelajaran.
“Mahasiswa yang datang tidak kami tempatkan sebagai penonton atau sebagai pihak yang datang membawa solusi. Mereka kami ajak mengalami langsung. Mereka menanam, mengolah, bermain, berdiskusi, belajar gamelan dan wayang, kemudian tampil bersama,” ujar Deni.
Menurut dia, pola interaksi tersebut menciptakan pertukaran pengetahuan yang berlangsung dua arah. Mahasiswa membawa perspektif akademik dan pengalaman dari negara masing-masing, sementara masyarakat memiliki pengetahuan yang terbentuk dari kehidupan sehari-hari.
“Ada pengetahuan yang mereka bawa dari kampus dan negara masing-masing. Di sisi lain, masyarakat memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman hidup sehari-hari. Ketika keduanya bertemu, yang terjadi bukan hanya mahasiswa belajar dari masyarakat, tetapi masyarakat juga mendapatkan perspektif baru dari mereka,” katanya.
Kehidupan Lokal Berpeluang Dikembangkan Jadi Wisata Edukasi
Kegiatan mahasiswa internasional tersebut juga memunculkan gagasan mengenai pengembangan wisata edukasi berbasis masyarakat dan budaya di Kabupaten Ciamis.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Heryan Rusyandi, S.Sos., M.M., yang hadir pada hari pertama kegiatan, menilai kekuatan pariwisata tidak selalu harus bertumpu pada panorama alam.
Menurutnya, aktivitas warga, budaya lokal, pengetahuan tradisional hingga kegiatan pembelajaran dapat menjadi daya tarik yang memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
“Potensi pariwisata tidak hanya berupa alam atau tempat yang indah untuk dikunjungi. Kehidupan masyarakat, budaya, pengetahuan lokal dan aktivitas edukatif juga memiliki nilai yang bisa menjadi pengalaman wisata,” ujar Heryan.
Ia menilai pengalaman yang diperoleh mahasiswa di Kampung Kerukunan dan Sakola Motèkar dapat menjadi gambaran awal mengenai pengembangan destinasi wisata edukasi di Ciamis.
“Ciamis memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi berbasis masyarakat dan budaya, dengan berbagai atraksi edukatif yang tumbuh dari kehidupan lokal,” katanya.
Deni menyatakan, pengembangan tersebut perlu tetap menempatkan kehidupan masyarakat sebagai sumber utama pengalaman, bukan mengubah ruang belajar menjadi sekadar objek wisata.
“Sakola Motèkar sebenarnya tidak dibangun sebagai tempat wisata. Kami membangun ruang belajar masyarakat. Tetapi ketika ada orang dari luar, bahkan dari luar negeri, datang dan belajar dari aktivitas yang memang sehari-hari dilakukan masyarakat, di situlah kami melihat ada potensi wisata edukasi,” jelasnya.
Baca Juga :Imah Aing’ di Sapawarga Dibuka, Warga Jabar Bisa Ajukan Perbaikan Rutilahu Gratis
Ia menyebut potensi serupa dapat ditemukan di berbagai wilayah Ciamis, mulai dari Kampung Kerukunan, desa wisata, kaulinan tradisional, pertanian, peternakan, pengolahan pangan hingga kesenian daerah.
Menurutnya, berbagai potensi tersebut dapat dikemas sebagai pengalaman yang memungkinkan wisatawan berinteraksi dan memperoleh pengetahuan secara langsung.
“Ciamis punya banyak kehidupan yang sebenarnya menarik untuk dipelajari. Jadi wisata tidak harus selalu tentang datang, melihat, lalu pulang. Bisa juga datang, mengalami, berinteraksi, belajar, kemudian membawa pulang pengalaman,” ungkapnya.
Pertemuan antara SBM ITB, Sakola Motèkar, pemerintah daerah, masyarakat dan mahasiswa internasional tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan dapat berlangsung jauh melampaui ruang kelas.
Selama berada di Ciamis, para mahasiswa mendapatkan pengalaman dari berbagai sisi kehidupan masyarakat, mulai dari aktivitas di kebun, pengolahan pangan, permainan tradisional hingga seni pertunjukan.
Bagi Ciamis, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan pengetahuan lokal kepada dunia internasional.
Pengetahuan tidak hanya hadir melalui buku dan ruang akademik, tetapi juga tumbuh dari pengalaman warga dalam mengelola lingkungan, mempertahankan budaya dan membangun kehidupan bersama. (Hendri/PasundanNews.com)



















































