BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Upaya Pemerintah Kabupaten Ciamis dalam mendorong pertanian berbasis ramah lingkungan terus menunjukkan perkembangan.
Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan (PSRL) kini mulai meluas di berbagai wilayah sebagai strategi menjaga kesuburan tanah sekaligus menghasilkan pangan yang lebih sehat.
Sekretaris Daerah Ciamis, Andang Firman, menyampaikan bahwa gerakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati Herdiat Sunarya untuk memperkuat kemandirian pangan daerah secara berkelanjutan.
“Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada pengurangan bahan kimia dan pemanfaatan sumber daya alami di sekitar petani,” jelasnya.
Salah satu contoh penerapannya terlihat di Kelurahan Cigembor, Kecamatan Ciamis.
Kelompok tani setempat telah memulai penanaman di lahan bengkok sebagai bagian dari implementasi PSRL.
Meski tergolong baru, model ini sudah berkembang cukup luas, dengan total lahan yang menerapkan konsep serupa di Ciamis mencapai sekitar 70 hektare hingga akhir tahun lalu.
Menurut Andang, sistem ini mengandalkan penggunaan kompos serta Mikroorganisme Lokal (MOL) sebagai pengganti pupuk anorganik.
“Antusiasme petani cukup tinggi karena metode ini dinilai lebih hemat sekaligus berdampak positif terhadap kualitas tanah,” ungkapnya.
Pengalaman langsung juga memperkuat klaim tersebut. Pada 2025, Andang melakukan uji coba di lahan seluas 120 bata. Hasilnya, produksi padi meningkat tajam dari kisaran 5–6 kuintal menjadi sekitar 1,2 ton gabah kering.
Baca Juga :BAZNAS RI Sebut Ciamis Layak Jadi Contoh Nasional Pengelolaan Zakat
“Capaian ini menunjukkan bahwa pendekatan pertanian organik mampu memberikan hasil nyata, bukan sekadar konsep,” tuturnya.
Selain kuantitas, kualitas hasil panen juga mengalami peningkatan. Beras yang dihasilkan dari sistem ini diklaim memiliki daya tahan lebih lama setelah dimasak dan tidak cepat basi. Kondisi tersebut turut berpengaruh pada nilai jual yang lebih tinggi di pasaran.
Di sisi lain, Pemkab Ciamis juga mendorong kemandirian petani dalam penyediaan pupuk.
Melalui metode System of Rice Intensification (SRI), petani diajak memanfaatkan bahan-bahan alami seperti air cucian beras, air kelapa limbah industri, buah maja, keong mas, hingga sisa telur untuk diolah menjadi nutrisi tanaman.
Biaya produksi yang relatif rendah menjadi keunggulan lain dari sistem ini. Petani hanya perlu tambahan bahan seperti molase sebagai pemicu fermentasi, sementara sebagian besar kebutuhan tersedia di lingkungan sekitar.
Mengakhiri keterangannya, Andang mengajak para petani untuk mulai beralih dari ketergantungan terhadap bahan kimia.
Ia menilai penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus telah menurunkan kualitas tanah, sehingga perlu dikembalikan melalui pendekatan alami.
“Dengan kombinasi praktik lapangan dan pemahaman teori yang tepat, Pemerintah Kabupaten Ciamis optimistis sektor pertanian lokal dapat menghasilkan produk unggulan yang sehat, bernilai ekonomi tinggi, sekaligus menjadi ciri khas daerah,” Sekda Ciamis.(Pepi Irawan/PasundanNews.com)



















































