Beranda Cianjur

Merugi Jutaan Rupiah, Petani Bunga Potong Beralih ke Tanaman Pot

Petani bunga dan tanaman hias di Desa Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur
CIANJUR, PASUNDANNEWS – Para petani bunga dan tanaman hias di Desa Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, sangat terdampak pandemi corona. Sejak kegiatan yang melibatkan massa, seperti pernikahan, pesta, dan hotel dilarang beroperasi, bunga-bunga dari petani kawungluwuk tidak tersalurkan.
Pantauan di lapangan banyak produk hasil panen mereka terbuang. Padahal sebelum pandemi corona, produk bunga potong dari Kawungluwuk merambah pasar Jakarta, Jawa, hingga Bali. Selain itu, karena pemasukan yang turun drastis, produksi dan perawatan bunga dari sejumlah petani tidak optimal. Pemberian pupuk dan obat pun tidak serutin biasanya.
Selain itu, kualitas dan kesehatan bunga dan tanaman yang diproduksi pun terpengaruh. Melihat pasar bunga potong seperti krisan akan masih terdampak, sejumlah petani pun mengambil tindakan. Sebagian kebun bunga potong diubah tempat produksi tanaman pot.
Deni Garniwan salah seorang petani bunga potong asal Kawumgluwuk mengakui selama pandemi covid -19, hingga saat ini kondisi para petani bunga potong hancur 100 persen. Sehingga banyak diantara petani mulai beralih ke bunga pot gantung yang dinilai masih bisa bertahan.
“Banyak diantara petani mengalami kerugian puluhan hingga ratusan juta dalam beberapa bulan terakhir. Biasanya bunga potong untuk pernikahan, dekorasi hotel-hotel di Jakarta hingga wilayah Jawa, sangat terdampak secara finansial,” jelas pria yang juga menjabat menjadi salah satu Kepala Dusun di Desa Kawungluwuk, saat ditemui Kamis, (20/8).
Melihat pasar bunga potong akan masih terdampak, dirinya pun mengambil tindakan. Sebagian kebunnya diaubah tempat produksi tanaman pot aneka tanaman untuk para kolektor seperti agronema, keladi, pildenrom, dan aneka jenis tanaman lainnya.
“Alhamdulillah bulan kemarin ratusan tanaman pot terjual, ada juga tanaman kolektor yang dijual puluhan ribu hingga jutaan rupiah,” katanya.
Ditengah pandemi ini jika dipikir kembali, ada sisi positifnya, karena setelah bertahun – tahun memproduksi bunga potong, kini para petani di Kawungluwuk mengembangkan bisnisnya ke tanaman lain.
“Kalau tanaman pot, makin besar harganya makin mahal juga. Mudah-mudahan nanti bunga potong tetap jalan, tanaman pot juga terus jalan,” ujarnya.
Sementara itu Kades Kawungluwuk Samsul Mubarok didampingi Sekdes Kawungluwuk Alvian Sumansyah menjelaskan desanya merupakan salah satu sentra bunga potong dan aneka tanaman hias di Cianjur. Sehingga ditengah pandemi ini mereka sangat terdampak karena tidak bisa permintaan berkurang drastis di Jabodetabek.
“Namun para petani kini mulai beralih ke aneka jenis tanaman pot dan tanaman hias untuk para kolektor. Mereka menilai tanaman tersebut bisa lebih stabil harga dan kualitasnya di masa pandemi,” ungkapnya.
Rencananya pihak desa akan menampung aneka jenis tanaman petani melalui bumdes, dan bumdes yang akan membantu emasarkan ke luar kota. Ini dilakukan demi pemberdayaan potensi petani bunga di Kawungluwuk.
“Ada ratusan jenis tumbuh tanaman hias di kawungluwuk. Apalagi disini pun ada wisata skala nasional yakni Taman Bunga Nusantara, jadi kedepan kami pun selain menampung hasil petani tanaman hias, kami akan buat sentra tanaman hias di wilayah kami untuk menyedot wisatawan domestik ataupun mancanegara,” ujarnya.
Tak hanya itu, warga Kawungluwuk pun kedepan akan diajarkan untuk pengembangan peternakan ikan lele dan ayam. Untuk lokasinya akan dikembangkan di Kmpung Awi, diharapkan upaya ini bisa meningkatkan perekonomian masyarakat di Kawungluwuk. “Ya selain sektor pertanian, kami pun tengah menggarap program pengembangan perekonomian melalui ternak lele dan ayam,” tandasnya. (Fhn)