Beranda Opini MAKNA HARI IBU

MAKNA HARI IBU

Ibu adalah sosok orang yang di banggakan oleh seorang anak. Karena sosok itu yang telah rela mengandung 9 bulan lamanya di rahim. Karena memiliki drajat yang tinggi maka semua orang mengakui bahwa ibu adalah orang yang dipentingkan. Seperti pernyataan Presiden  Amerika pertama, Geoge Washington, Menyatakan “ Ibu saya orang yang paling indah. Apapun yang saya capai saat ini saya berhutang padanya. Segala kemampuan , intelektual, dan peran yang saya curahkan, semua berasal darinya”.

Dengan besarnya peranan seorang ibu yang sangat berjasa hal itu menjadikan adanya peringatan adanya Hari Ibu yang hampir di lakukan seluruh dunia, termasuk tanah air Indonesia pun merayakan Hari Ibu .

Sejarah indoensia menetapkan tanggal 22 desember adalah hari ibu. Hari itu dirayakan pertama kali pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar pada tanggal 22 sampai 25 Desember 1928. Kongres ini dihadiri oleh 30 organisasi wanita dari 12 kota di jawa dan di sumatera, untuk di Indonesia organsasi telah ada sejak tahun 1912 yang terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita seperti Kartini, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahuha, Nyai Ahmad Dahlan dan lain-lain. Dengan pengakuan sebagai tonggak bersatunya di Indonesia Presiden Republik Indonesia yakni Bapak Soekarno dalam keputusan No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 bahwa tanggal 22 Desember sebagai Peringatan “Hari Ibu”.

Beda halnya dengan peringata hari ibu di Negara lain, semisal India merayakannya pada 10 hari di bulan Oktober, di Spanyol bertepatan pada minggu pertama di bulan Mei, di Meksiko perayaan ini bertepatan pada tanggal 10 Mei dan lain sebagainya. Hal ini menjadi kesadaran bahwa hampir seluruh Negara menyadari bahwa seorang ibu perlu dihormati.

Pengakuan cinta kasih kepada Ibu di Indonesia sendiri sangatlah tinggi, hal ini di lihat dari  berbagai kalangan yang mencintai seorang ibu semisal  dari seorang Musisi terkenal  Iwan Fals yang membuat lagu berjudul “IBU” nilai yang terdapat dalam lagu itu bila di hayati sangatlah dalam, adapun dari berbagai penyair baik itu dari kalangan Sekolah, Mahasiswa dan lainnya pasti ada yang membuat puisi tentang ibu. Secara tidak langsung itu menjadi gambaran bahwa pengakuan ibu sebagai orang yang dihargai masihlah tinggi.

Dalam hal ini penulis beranggapan ada kekeliruan  tentang ketidak sesuaian pengakuan dan tindak nyatanya yang dilakukan oleh anak kepada ibu (orangtua), dari segi pengakuan penulis melihat banyak orang yang mengaku bahwa ibu adalah orang yang pertama harus dipentingkan dan dihormati tapi disisi lain dalam bentuk nyatanya masih banyak pula seorang anak yang membangkang bahkan menipu orang tuanya.

Makna dari “Hari Ibu” bukan berarti merayakan ataupun menghormati  satu kali dalam setahun, hal itu hanyalah sebagai peringatan bahwa seorang anak haruslah berbakti setiap saat bahkan sampai akhir hayat dan juga sebagai tonggak sejarah perjuangan perempuan untuk mendapat hidup lebih layak.

Maka untuk selanjutnya kita harus benahi bibit-bibit generasi agar sadar terhadap cinta kasih seorang ibu,  untuk saat ini kita di hadapkan dengan perkembangan teknologi digital, penggunaan teknologi haruslah digunakan dengan bijak, karena bila tidak hal ini pun akan berdampak kurang baik terhadap budi pekerti kepada anak dan tidak sedikit seorang ibu tidak lagi dianggap penting. Hal ini menyebabkan pula tergantinya hangat pelukan kasih ibu oleh dahsyatnya hiburan yang dibawakan oleh teknologi digital.

Penulis : Try Rahmat Maulana Hidayat

KETUA LAPMI HMI CABANG CIANJUR