Seekor Kijang tiba-tiba masuk ke ruang kelas SD Negeri 5 Maleber, Belender, Kelurahan Maleber, Kecamatan/Kabupaten Ciamis. Foto/PasundanNews.com

BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Kijang liar atau seekor menceuk (Muntiacus muntjak) tersesat masuk ke ruang kelas, Selasa (31/5/2022) sekitar pukul 08.00 WIB.

Hal ini merupakan peristiwa langka hingga menyedot perhatian warga setempat.

Kronologi kejadian ketika kijang itu tersesat masuk ruang kelas II SDN 5 Maleber Ciamis, Selasa pukul 08.00 pagi, telah membuat panik Yanti Srinovianti (29).

Yanti, asal Dusun Cibitung Desa/Kecamatan Cimaragas Ciamis tersebut sedang sendirian di dalam kelas. Sementara 8 murid kelas II sedang belajar olahraga di luar kelas.

“Saya sempat panik lari cepat-cepat keluar melalui pintu belakang. Kijang itu tiba-tiba masuk ruang kelas dari pintu yang memang sedang terbuka,” ujar Yanti, guru kelas yang masih berstatus guru honorer tersebut.

Ia menuturkan, pintu depan juga langsung ditutup sehingga kijang nyasar tersebut terkurung di dalam kelas.

Respon Warga Setempat

Warga pun berdatangan, Ketua RW 08 dan Ketua RT 04 Lingkungan Blender bersama seorang warga nekat masuk ke dalam ruang kelas menangkap kijang tersesat tersebut.

“Kami bertiga menangkap kijang itu pakai jaring net bola voli. Kijangnya sempat liar, lari-lari sehingga ruang kelas jadi acak-acakan. Gamelan dan alat-alat musik serta alat olahraga juga ditendang oleh kijang, mungkin kijangnya juga panik,” ujar Iwan Irawan, Ketua RW 08 Blender.

Setelah kijangnya berhasil ditangkap dengan jaring dan kemudian diikat menurut Iwan, menceuk tersebut langsung diserahkan kepada petugas BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) yang cepat datang ke lokasi setelah diberitahu warga.

“Kijangnya sudah diserahkan ke BKSDA,” katanya.

Kijang Diduga Berasal dari Habitat Gunung Sawal

Sebagaimana laporan Tribun Jabar, Fungsional Konservasi BKSDA Wilayah III Jabar di Ciamis, Dede Nurhidayat mengatakan lokasi sekolah tempat kijang tersebut berada di pemukiman padat.

“Lokasinya di sisi gang sempit di lokasi padat permukiman di wilayah Ciamis Kota jauh dari kawasan hutan Gunung Sawal,” tuturnya.

Dede melanjutkan, kijang tersebut kijang liar, dan kondisinya stres saat berhadapan dengan manusia.

Tentu berbeda kalau kijang tersebut hasil peliharaan yang sehari-hari dekat dengan orang.

“Untuk sementara disebut kijang liar. Kami masih mendalami informasi tentang kejadian ini. Informasi awal dari masyarakat, di lingkungan tersebut tidak ada warga yang memelihara menceuk (kijang),” katanya.

Bila ternyata kijang tersebut memang kijang liar, satwa yang dilindungi berasal dari hutan suaka margasatwa Gunung Sawal.

Satwa tersebut tersesat jauh berkilo-kilo meter dari habitatnya di Gunung Sawal. Sehingga sampai nyasar masuk ruang kelas yang lokasinya di tengah lingkungan padat permukiman di dalam wilayah Ciamis Kota.

Sementara lokasi sekolah berada di sisi tebing selokan Ciblender yang berhubungan langsung dengan Sungai Cimamut yang berhulu di Gunung Sawal.

“Mungkin saja aliran Sungai Cimamut tersebut koridor satwa. Mengingat kiri kanan Sungai Cimamut masih terlihat hijau. Banyak tanaman rumput yang lembab dan hijau yang merupakan pakan kijang,” jelas Dede.

Kemungkinan tersebut menurut Dede memang perlu menjadi bahan kajian, sehingga perlu juga ditelusuri tingkat populasi kijang di hutan Suaka Margasatwa Gunung Sawal.

Misalnya karena populasi kijang sudah over populasi. Individu kijang tersebut memilih menjauh dari habitatnya. Dengan melintas koridor satwa sepanjang Sungai Cimamut tersebut sehingga ia tersesat.

Kejadian Satwa Liar Turun Gunug

Selama ini yang beberapa kali terjadi di SM Gunung Sawal menurut Dede, adalah kejadian macan tutul (Phantera pardus) yang turun ke permukiman warga.

Macan tutul yang turun ke pemukiman warga tersebut memangsa ternak milik warga.

Termasuk kejadian yang menimpa si Abah (macan tutul penguasa Gunung Sawal) menjadi salah gambaran konflik satwa penghuni SM Gunung Sawal dengan warga di desa sekitar hutan.

“Tapi kejadian kali ini bukan macan tutul melainkan menimpa seekor kijang biasa yang diduga masih liar, tersesat jauh ke sekolah yang berada di pemukiman padat penduduk,” katanya. (Herdi/PasundanNews.com)

Artikel sebelumyaRechecking Kampung KB Digelar, Upaya Mendapat Predikat Terbaik tingkat Jawa Barat
Artikel berikutnyaBerikan Arahan Kepada Kepala Desa se Kabupaten Ciamis, Bupati: Pemimpin Harus Visioner