Ilustrasi gerakan kebersihan dan pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Foto/Istimewa.AI

BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Memasuki musim hujan, Pemerintah Kabupaten Ciamis meningkatkan langkah pencegahan banjir dan tanah longsor melalui penguatan gerakan kebersihan lingkungan serta optimalisasi pengelolaan sampah.

Upaya tersebut dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan aparatur pemerintah dan masyarakat.

Selain membersihkan kawasan permukiman, perhatian juga diarahkan pada saluran drainase, aliran sungai, hingga pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Kepala Bidang Kebersihan, Persampahan, dan Pertamanan (KPP) Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Ciamis, Irwan Efendi, mengatakan persoalan kebersihan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.

Diperlukan kesadaran dan partisipasi masyarakat agar lingkungan tetap terjaga, terutama ketika curah hujan meningkat.

Menurut Irwan, salah satu langkah yang terus digerakkan adalah kegiatan kebersihan rutin setiap Selasa dan Jumat.

Melalui program tersebut, pihaknya mendorong masyarakat membersihkan lingkungan tempat tinggal, termasuk mengangkat sampah dan sedimentasi yang berpotensi menghambat aliran air.

Baca Juga :Bupati Ciamis Ajak Warga Gencarkan Menanam Pohon untuk Jaga Sumber Air

“Saluran air yang tidak terawat dapat memicu genangan, bahkan meningkatkan risiko banjir. Karena itu, kebersihan drainase harus menjadi perhatian bersama. Selain mencegah banjir, lingkungan yang bersih juga dapat mengurangi potensi berkembangnya nyamuk dan sumber penyakit,” ujarnya kepada PasundanNews.com, Selasa (3/11/2026).

Gerakan tersebut juga diterapkan di lingkungan pemerintahan. Sesuai arahan Bupati Ciamis, para pegawai di setiap organisasi perangkat daerah (OPD) diminta menyisihkan waktu sebelum memulai pekerjaan untuk membersihkan halaman dan area sekitar kantor.

Di sisi lain, DPRKPLH Ciamis melakukan pemantauan terhadap sejumlah titik aliran air yang dinilai membutuhkan perhatian.

“Antara lain seperti Sungai Cimemen dan Sungai Cileueur yang melintasi kawasan belakang Kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Ciamis,” tuturnya.

Pembersihan dan pengawasan aliran sungai serta drainase menjadi bagian dari langkah antisipasi terhadap kemungkinan penyumbatan akibat sampah maupun material lainnya yang terbawa saat hujan.

Irwan juga mengingatkan warga yang bermukim di sekitar bantaran sungai dan saluran air agar tidak menjadikan aliran air sebagai tempat pembuangan sampah.

Ia meminta masyarakat mulai membiasakan pemilahan sampah dari rumah dengan memisahkan jenis organik dan anorganik sebelum dibuang atau dikelola lebih lanjut.

“Kami mengimbau masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. Kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah juga perlu diterapkan. Kesadaran sederhana seperti ini sangat membantu mengurangi risiko penyumbatan saluran air dan bencana saat musim hujan,” katanya.

Penanganan di Tempat Pemrosesan Lahir Capai 50 Hingga 70 Ton

Sementara itu, terkait penanganan sampah di hilir, Irwan menyebutkan volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir di Kabupaten Ciamis mencapai sekitar 50 hingga 70 ton setiap hari.

Sampah tersebut ditangani melalui dua lokasi TPA, yakni TPA Ciminyak dan TPA Banjaran yang berada di wilayah Kecamatan Sindangkasih.

Menurutnya, kegiatan operasional kedua lokasi tersebut masih berjalan dengan pengelolaan yang terkendali.

DPRKPLH menerapkan metode controlled landfill untuk mengurangi dampak lingkungan dari penumpukan sampah. Dalam sistem ini, sampah yang masuk terlebih dahulu diratakan menggunakan alat berat, kemudian ditutup dengan lapisan tanah secara berkala.

Penerapan metode tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga kondisi TPA agar tetap terkendali, sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan sampah.

Irwan menegaskan, keberhasilan menjaga kebersihan dan mengantisipasi bencana hidrometeorologi membutuhkan konsistensi seluruh pihak.

Pemerintah dapat menjalankan kegiatan pembersihan dan pengawasan, tetapi perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sehari-hari tetap menjadi faktor penting.

“Semoga gerakan kebersihan yang dilakukan secara rutin, lingkungan permukiman, sungai, dan saluran drainase tetap terpelihara sehingga risiko bencana selama musim hujan dapat ditekan,” harapnya.

(Herdi/PasundanNews.com)