Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat meninjau jembatan Pongpet yang sempat anjlok di Pangandaran. Foto/Deni Rudini.PasundanNews.com

BERITA PANGANDARAN, PASUNDANNEWS.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan pembangunan jembatan permanen sebagai solusi jangka panjang untuk akses warga di kawasan Pongpet, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.

Rencana tersebut disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ketika melihat langsung kondisi Jembatan Gantung Pongpet, Sabtu (5/9/2026).

Peninjauan dilakukan setelah jembatan tersebut mengalami anjlok ketika hendak diresmikan pada Minggu (30/8/2026).

Dedi datang bersama Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, Kepala Desa Margacinta dan sejumlah masyarakat.

Rombongan memeriksa kondisi konstruksi sekaligus melihat karakteristik medan di sekitar jembatan yang saat ini masih dalam penanganan.

Menurut Dedi, pembangunan jembatan permanen akan menjadi pilihan yang lebih tepat untuk menjamin keamanan serta keberlangsungan akses masyarakat.

Namun, penentuan lokasi pembangunan tidak akan dilakukan secara terburu-buru.

Pemprov Jawa Barat terlebih dahulu akan melakukan survei dengan menyiapkan sejumlah opsi titik pembangunan.

Kajian tersebut diperlukan agar jembatan yang nantinya dibangun memiliki lokasi yang lebih efektif dan aman.

Baca Juga :Kapolda Jabar Soroti Pelayanan Publik dan Transformasi Digital Saat Kunjungi Polres Banjar

“Kita akan survei beberapa alternatif. Kita cari titik yang jaraknya lebih dekat sehingga bentangnya juga tidak terlalu panjang,” kata Dedi saat berada di lokasi.

Ia menjelaskan, panjang bentang menjadi salah satu aspek yang harus diperhitungkan.

Selain menentukan kebutuhan konstruksi, faktor tersebut berkaitan langsung dengan tingkat keamanan jembatan, terlebih pada kondisi geografis Pongpet yang memiliki kemiringan cukup ekstrem.

Dari hasil pengamatan di lapangan, Dedi menilai karakteristik medan di sekitar jembatan menjadi tantangan tersendiri.

Kemiringan yang cukup curam dinilai dapat meningkatkan risiko bagi masyarakat apabila akses penghubung dibangun tanpa mempertimbangkan kondisi geografis secara matang.

“Kalau melihat kecuramannya memang relatif berbahaya, ekstrem,” ujarnya.

Selain kontur tanah, panjang bentang Jembatan Gantung Pongpet juga menjadi sorotan.

Dedi menilai ukuran bentang yang cukup panjang untuk sebuah jembatan gantung membuat aspek keselamatan harus menjadi perhatian utama.

“Untuk ukuran jembatan gantung, bentangnya terlalu panjang. Itu membuat risikonya menjadi cukup tinggi,” katanya.

Meski demikian, Dedi mengakui jembatan tersebut memiliki catatan sejarah panjang.

Jembatan yang telah digunakan sejak 1992 itu disebut mampu bertahan hingga saat ini sebelum akhirnya mengalami persoalan pada momentum peresmiannya.

Ke depan, Pemprov Jabar akan mengkaji sejumlah alternatif lokasi sebelum menentukan titik pembangunan jembatan permanen.

“Semoga langkah ini dapat menghasilkan akses penghubung yang lebih aman, memiliki bentang lebih efisien, serta sesuai dengan kondisi geografis wilayah Pongpet,” pungkasnya. (Deni Rudini/PasundanNews.com)