BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Nama Kota Banjar tak bisa dilepaskan dari sosok DR dr H Herman Sutrisno, MM. Sebagai Walikota pertama dan dua periode di bawah kepemimpinannya, kota kecil di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah itu dikenal bersih, tertata rapi.
Bahkan detail estetika seperti tiang-tiang jembatan pun dirancang dengan desain khusus. Tak heran, Banjar kerap meraih penghargaan Adipura hingga pernah mencatatkan rekor di tingkat internasional (Guiness Of Record).
Hal ini diungkapkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam rapat paripurna Hari Jadi ke 23 Kota Banjar di gedung DPRD Kota Banjar, Sabtu (21/2/2026).
Ia menyebut Banjar identik dengan sosok dr Herman. Baginya, berbicara tentang Banjar berarti berbicara tentang kota yang memiliki karakter kuat dalam penataan ruang dan kebersihan lingkungan.
“Siapa yang tidak kenal dengan dr Herman. Kalau menceritakan Kota Banjar berarti menceritakan daerah yang bersih, tertata rapi, bahkan tiang-tiang jembatan pun didesain dengan baik,” ujarnya.
Dedi juga mengungkapkan sisi historis yang kerap diangkat dr Herman dalam membangun daerah, yakni pentingnya memahami sejarah atau dalam istilah Sunda disebut purwadaksi.
Menurutnya, dr Herman selalu menempatkan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan. Dalam kesempatan itu, Dedi menyebut sahabatnya tersebut sebagai “Jagoan Kolot”.
Baca Juga :Di Hari Jadi ke 23, Ketua DPD PSI Kota Banjar Sentil Pejabat dan Walikota
“Meski sudah sepuh tapi emosinya masih tinggi. Itu yang saya suka dari beliau. Semangatnya tidak pernah padam,” ucapnya.
Persahabatan keduanya terjalin erat, termasuk dalam perjalanan politik. Dedi menuturkan saat dirinya maju menjadi Ketua Golkar Provinsi Jawa Barat, dr Herman menjadi salah satu tokoh yang paling setia memberikan dukungan.
“Ketika saya akan menjadi Ketua Golkar Provinsi Jawa Barat, dr Herman itu yang paling setia mendukung saya. Beliau selalu ada,” katanya.
Dedi juga mengenang awal perkenalannya dengan Banjar pada 1997–1998 saat daerah itu masih berstatus kota administratif. “Waktu itu Banjar masih kotif. Saya ikut pendidikan P4 calon instruktur dan dibawa ke sini,” tuturnya.
Bahkan ketika terpilih menjadi Bupati Purwakarta pada 1998, Dedi mengaku Banjar menjadi tempat pertama ia belajar.
“Saya orang paling pertama berguru ke Kota Banjar. Datang ke sini memperhatikan trotoar dan pohon glodogan. Itu saya pakai di Purwakarta. Alhamdulillah terlaksana,” katanya.
Meski kini menjabat sebagai Gubernur, ia menegaskan tetap menaruh hormat yang tinggi kepada sosok dr Herman Sutrisno, karena baginya beliau bukan hanya sahabat, melainkan juga figur orang tua sekaligus guru yang telah banyak membimbing perjalanan hidup dan pengabdiannya.
“Meski saya kini menjabat sebagai Gubernur, saya tetap menaruh hormat yang setinggi-tingginya kepada beliau. Bagi saya, beliau bukan hanya seorang sahabat, tetapi juga sosok orang tua sekaligus guru yang telah banyak membimbing dan memberikan teladan dalam perjalanan hidup serta pengabdian saya,” pungkasnya. (HermantoPasundanNews.com)



















































