Ketua Bidang Ekonomi Pembangunan HMI Cabang Ciamis M. Rifqi Alauddin. Foto/Istimewa

BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Perayaan Hari Kemerdekaan di Kabupaten Ciamis setiap tahun selalu meriah mulai dari upacara, karnaval, pesta rakyat, hingga panggung hiburan.

Namun di balik euforia tersebut, kondisi ekonomi daerah justru menunjukkan tren mengkhawatirkan, pertumbuhan melambat, defisit anggaran membesar, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) stagnan.

Hal itu disampaikan Ketua Bidang Ekonomi Pembangunan HMI Cabang Ciamis M. Rifqi Alauddin kepada PasundanNews.com, Selasa (19/8/2025)

Menurutnya, mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi Ciamis menurun yakni 5,02% pada 2022, turun ke 4,99% pada 2023, dan 4,97% pada 2024.

“Meski masih positif, tren ini mengindikasikan pelemahan daya dorong ekonomi,” ujarnya.

Struktur ekonomi yang terlalu bertumpu pada sektor primer, pertanian dan peternakan, menjadi penyebab utama.

Kontribusi sektor ini mencapai 30,5% PDRB, namun rentan fluktuasi harga, cuaca, dan daya beli. Minimnya industrialisasi lokal membuat nilai tambah produk lebih banyak dinikmati daerah lain, bukan masyarakat Ciamis.

Defisit Membengkak

Fiskal Ciamis juga kian tertekan, Rifqi mengutip bahwa Bupati menyebut APBD “tidak baik-baik saja” dengan defisit Rp138 miliar pada 2024. Bahkan, rancangan perubahan APBD 2025 memproyeksikan defisit struktural Rp251 miliar.

Baca Juga : Fraksi Demokrat Desak DPRD Perjelas Mekanisme Pengisian Wakil Bupati Ciamis

“Kondisi ini berpotensi menjerumuskan Ciamis dalam fiscal trap, yaitu sebagian besar belanja habis untuk kewajiban rutin, sementara ruang untuk investasi pembangunan semakin kecil,” jelasnya.

Pentingnya pengurangan agenda seremonial dan perbaikan belanja publik menjadi langkah mendesak.

PAD Lemah dan Bergantung Transfer

PAD Ciamis turun dari Rp301 miliar pada 2022 menjadi Rp274 miliar pada 2023, dan realisasi 2024 sekitar Rp285 miliar.

Rifki menyebutkan bahwa lebih dari 80% pendapatan daerah masih bergantung pada transfer pusat dan antar-daerah.

Baca Juga : HMI Ciamis Nilai DPRD Kurang Responsif Bahas Kekosongan Wakil Bupati

“Potensi pajak dan retribusi daerah seperti hotel, restoran, parkir, dan pasar belum tergarap maksimal. Sistem pendataan dan penagihan masih lemah, sementara kebocoran pendapatan tetap menjadi masalah klasik,” terang Koordinator Koordinator Wilayah 4 ISMEI tersebut.

Lima Masalah Ekonomi Ciamis

Rifki melanjutkan, dari hasil analisisnya, terdapat lima masalah ekonomi di Ciamis. Pertama, Pertumbuhan terkonsentrasi di sektor primer tanpa hilirisasi.

Kedua, Defisit anggaran berulang yang menyempitkan ruang kebijakan. Ketiga, PAD rendah dan stagnan.

Keempat, belanja publik kurang produktif, didominasi belanja rutin dan seremonial. Kelima, minim inovasi fiskal dan investasi strategis.

Oleh karenanya, Rifqi menuturkan perlunya sejumlah rekomendasi strategis.

“Antara lain, optimalisasi PAD berbasis data dan teknologi, hilirisasi sektor unggulan, khususnya pertanian, peternakan, dan perikanan air tawar,” katanya.

Kemudian, mengoptimalisasi sentra industri olahan di Kabupaten Ciamis agar nilai tambah tidak lari ke luar daerah.

Selanjutnya, pelibatan BUMD, koperasi, dan UMKM dalam rantai pasok.

“Kemudian, penguatan pengelolaan pasar, parkir, dan logistik. Kelima, menargetkan dividen BUMD sebagai sumber penerimaan tahunan konsisten,” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa momentum kemerdekaan seharusnya menjadi refleksi, apakah Ciamis benar-benar merdeka secara fiskal.

Menurutnya, potensi besar yang ada di Ciamis akan tetap menjadi ‘modal tidur’ bila tak dikelola dengan strategi berani dan berbasis data.

“Kemerdekaan sejati adalah kemandirian. Jika ingin menyambut HUT RI mendatang dengan optimisme, Ciamis harus segera mengambil langkah strategis untuk menyehatkan fiskal dan memperkuat ekonomi lokal,” pungkasnya.

(Hendri/PasundanNews.com)