Dr. Asep Mulyana. Foto/Hermanto.PasundanNews.com

BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Selain istilah Generasi Milenial dan Generasi Z, hari-hari ini kita dikenalkan dengan istilah baru yakni Generasi Menunduk.

Generasi ini menggambarkan kecenderungan masyarakat kita yang lebih sering menunduk, memperhatikan gadget. Pikiran, tangan, dan mata tertuju pada layar ponsel pintar.

Hal itu dikemukakan oleh Asep Mulyana, doktor lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menekuni isu-isu HAM, demokrasi, dan pembangunan sosial.

“Fenomena ini mudah kita temui di rumah, di ruang-ruang publik, atau bahkan di jalanan. Situasi ini merefleksikan fenomena kecanduan gadget dalam masyarakat kita yang patut kita waspadai,” ujar Bah Asmul, panggilan akrab pria yang sehari-hari beraktivitas di Kota Banjar itu kepada pasundannews.com, Kamis (9/5/2024).

Bah Asmul menambahkan, gadget adalah alat teknologi baru yang memiliki kegunaan positif maupun negatif. Adanya penggunaan negatif tidak lantas membuat kita melarang atau membatasi penggunaan gadget.

“Sama seperti pisau, golok ataupun clurit, sebagai alat teknologi baru pada jamannya, bisa digunakan untuk memasak dan mengolah makanan namun bisa pula digunakan untuk melukai atau bahkan membunuh orang.

“Dulu, sebelum memberikan golok kepada anaknya, orangtua biasanya menyampaikan wacana, pengetahuan, dan praktik penggunaannya, termasuk manfaat dan bahayanya. Dengan begitu, anak-anak mereka menggunakan alat-alat itu sesuai fungsi yang semestinya,” kata pria plontos berkacamata bulat itu.

Celakanya, lanjut Bah Asmul, orangtua jaman now seringkali memberikan gadget kepada anak-anaknya tanpa memberikan wacana, pengetahuan, dan informasi tentang gadget kepada anak-anak mereka.

Mereka juga tak memperhatikan kecukupan umur dalam penggunaan gadget. Akibatnya, lanjut Bah Asmul, anak-anak sekarang menggunakan gadget tanpa kendali mutu dan kelayakan.

“Di mata orangtua, yang penting anaknya anteng (diam). Maka, tak jarang anak-anak sekarang kemudian larut dalam aplikasi games, judi online, pornografi, dan konten-konten tak laik lainnya. Nah, itu bisa berlanjut hingga mereka menginjak usia remaja dan dewasa,” ungkap Bah Asmul yang bekerja sebagai abdi negara itu.

Selain itu, keasyikan yang ditawarkan gadget mengakibatkan kecanduan yang berbahaya. Dalam jangka panjang, kecanduan gadget akan mengganggu perkembangan sosial, motorik, kejiwaan, dan perilaku sosial anak-anak.

“Mereka akan betah diam di satu tempat, yang dapat berakibat pada buruknya sensitipitas sosial, kesehatan fisik, dan mental,” tambah Bah Asmul.

Padahal gadget sejatinya punya manfaat yang besar untuk anak-anak. Melalui gadget, anak-anak dapat menggali berbagai pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkannya melalui beragam aplikasi edukatif, misalnya pembelajaran pengenalan warna, bentuk, huruf, angka, bahasa, serta pengetahuan lainnya yang sesuai umurnya.

“Gadget sangat ampuh untuk menstimulasi imajinasi dan daya pikir anak. Karena itu, sebelum memberikan gadget, saya menghimbau kepada semua orangtua agar menyuntikkan wacana, pengetahuan, dan informasi yang memadai tentang kegunaan gadget sekaligus serta memberikan teladan bagaimana menggunakan gadget untuk memperoleh kemanfaatan yang besar bagi kepentingan terbaik anak,” pungkas Bah Asmul.

(Hermanto/PasundanNews.com)