Beranda Opini Wanita Dalam Belenggu

Wanita Dalam Belenggu

Oleh : Silvia Pauzia

(Ketua BEM STIE PASIM)

Pasundannews, Sukabumi –  Semua orang akan selalu hidup terbelenggu pada hari-harinya. Rutinitas yang menyebalkan dan tak jarang bahkan membuat kehilangan semangat untuk hidup. Titik ini membuat kita aneh dan berpikir begitu dalam dan terlalu dewasa, seperti tidak punya tujuan hidup tapi berbicara banyak yang ingin dicapai.

Tidak ada kehidupan yang istimewa, setiap hari terasa biasa saja. Berdalih ingin punya ini itu padahal untuk sekedar eksistensi. Berkata untuk kepuasan batin padahal ingin di akui orang lain, menjadi sederhana cukup tidak menjadi rumit walaupun rasa iri kadang muncul tapi itu manusiawi.

Jaman sudah berubah, orang yang dikira punya uang banyak akan di kagumi tanpa kamu menunjukan sisi yang mengagumkan, mungkin saat kita tidak punya apa-apa untuk dilirik saja sepertinya cukup sulit. Begitulah dunia saat ini, kaum kapitalis akan selalu mengakui mereka yang berpeluang menguntungkan. Sekiranya tidak menguntungkan , untuk apa?

Menjadi seseorang yang terbelenggu dalam lingkaran korporat bukanlah suatu hal yang menyenangkan bagi setiap manusia apalagi jika itu berada dalam kehidupan seorang perempuan. Semua manusia menginginkan hidup sejahtera dan tenang. Tapi percayalah, menjadi bagian dari budak korporat kehidupan seperti itu tidak akan pernah di dapatkan. Kaum kapitalis seakan memperlakukan pekerja semakin bengis, namun yang bisa dilakukan pekerja hanya tunduk dan itu adalah sebuah kepatuhan.

Hidup hanya sebatas mengejar jam bangun tidur untuk kembali menjalani rutinitas, bekerja dibawah tekanan dengan waktu yang begitu mengikat tidak tentu, belum lagi ketika harus dikejar lemburan karena kebutuhan yang banyak lembur menjadi sebuah keharusan.

Saat aku merasa kebutuhanku sama sekali tidak tercukupi terlebih aku adalah seorang perempuan yang juga menjadi tulang punggung keluarga disaat yang bersamaan orang lain menganggap pekerjaan ku mudah dan uangku banyak. Tanpa pernah tau seberat apa beban yang ku pikul dalam pundakku, tanpa pernah tau segala kekurangan yang semaksimal mungkin ku buat menjadi cukup.

Stagnasi menjadi makananku sehari-hari sebab dengan segala sistem yang ada mengharuskan ku berpikir seakan tiada lagi kehidupan selain patuh pada sistem agar perut bisa tetap di isi tanpa peduli tenaga dikurasi dan sanubari tidak dihargai.

Apakah aku adalah bagian dari istilah “hidup seperti sapi perah?”

Aku pernah mendengar kalimat itu sewaktu aku SMA dulu, kamu mungkin tidak akan percaya pendidikan terakhir ku lulus di SMA dan setelah lulus hanya bekerja menjadi buruh tapi begitulah adanya. Kalimat yang ku dengar itu dapat ku artikan bahwa dalam hidup akan selalu ada yang di korbankan. Bisa itu berupa waktu, tenaga, pikiran atau bahkan materi. Lalu jika semua itu sudah habis, hilang dan lenyap maka apakah perahan itu juga akan usai? Pikiran itu terus menggerayangi kepalaku dan seakan batinku di koyak-koyak atas kalimat yang sempat ku dengar dan ku artikan sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan konyol dari seorang sepertiku terus bermunculan.

“Apakah ini adil?”

Kaum kapitalis yang menjadi tuan itu, mampu tidur dengan nyenyak dan hidup sejahtera tanpa memikirkan para pekerja nya. Yang dia tau hanya setiap pekerja dibayar atas kerja kerasnya tanpa peduli apapun yang mereka korbankan tak jarang apa yang mereka dapatkan tidak sepadan dengan apa yang mereka kerjakan.

Lalu apakah para pekerja nya merasakan hal yang sama? Tidur nyenyak dan hidup sejahtera? Aku rasa sama sekali tidak! Di saat aku harus memberikan semua tenaga dan memberikan kehidupan pada pekerjaan di saat itu pula semua itu tidak kunjung membuat hidupku sejahtera.

Tidak heran hidup di negeri ini dengan istilah: “yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin” istilah itu aku rasa bukan lagi menjadi istilah yang asing, semua sudah mengakui keberadaan istilah itu di negeri ini. Negeri yang indah namun terasa kejam untukku.

Hidupku berat, menjadi bagian dari lingkaran ini bukanlah sesuatu yang mudah. Sungguh, aku merasa hidup begitu jauh dari kata keadilan.

Ketidak adilan sekan muncul dengan bangga tanpa malu dan tak tau malu. Ketidak adilan menjelma seakan bukan hal asing berada di kehidupan, ketidak adilan hadir seakan itu hal yang wajar. Manusia tersakiti itu bukan masalah besar, asal kepentingan pribadi terpenuhi. Merugikan orang lain bukanlah masalah asal diri sendiri merasa puas. Aku muak dengan sistem ini, aku benci ketidak adilan !

Ketidak adilan ini bukan hanya muncul kepadaku tapi juga kepada perempuan-perempuan di luar sana. Sesekali aku pernah melihat wanita bersiap menjajakan diri di pinggir jalan, melihat seorang anak yang dibawa ibunya mengemis, dan itu semua mereka lakukan hanya untuk menyambung hidup. Jujur saat itu aku menangis dan mengutuk pada sistem yang ada. Saat melihatnya aku benar-benar gelisah membuatku ingin mati melihat ketidak adilan, juga ingin tetap hidup meberontak keaadaan. Segala sistem yang ada ini berhasil membuat kaum bawah menderita, ketidak adilan ini berhasil membuat susah dan menjadikan budak.

Baiklah, 01 Mei 2020 hari ini adalah hari Buruh Internasional. Sungguh tak banyak yang aku impikan, mimpiku hanyalah ingin semua sistem yang rusak dibenarkan dan keberpihakan penguasa terhadap kaum bawah. Bukan perihal asal bekerja dan bisa makan. Semua sistem yang rusak ini harus segera diperbaiki, segala sesuatu yang salah harus di benarkan. Kehidupan kaum bawah bukan untuk menjadi budak pada ketidak adilan!

Sampaikan pada penguasa, kami lelah dan tak jarang ingin menyerah. (Pasundannews / admin)