BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Upaya meningkatkan konsumsi ikan sekaligus memperkuat usaha pengolahan hasil perikanan terus dilakukan di Kabupaten Ciamis.
Sebanyak 100 unit coolbox dan sejumlah mesin pengolahan ikan disalurkan kepada kelompok usaha perikanan.
Bantuan tersebut diserahkan dalam kegiatan penyuluhan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang dihadiri anggota DPR RI Herry Dermawan bersama Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ciamis, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Balai Benih Ikan (BBI) Ciamis itu menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi protein hewani, khususnya ikan.
Anggota DPR RI Herry Dermawan mengatakan, kebiasaan mengonsumsi ikan perlu ditanamkan sejak usia dini karena kandungan gizinya berperan penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak.
Menurutnya, ketersediaan ikan laut maupun ikan air tawar dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
“Konsumsi ikan sangat baik untuk perkembangan otak anak. Kita ingin generasi muda Ciamis tidak hanya berbadan besar, tetapi juga cerdas sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain,” ujar Herry.
Ia menilai, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat. Karena itu, orang tua diharapkan mulai mengenalkan berbagai olahan ikan kepada anak-anak.
Selain mengampanyekan pola konsumsi bergizi, Herry turut mendorong peningkatan produktivitas pelaku usaha perikanan melalui dukungan sarana pengolahan dan penyimpanan hasil produksi.
Sebanyak 100 coolbox disalurkan kepada 13 kelompok penerima manfaat. Peralatan tersebut diharapkan membantu menjaga kualitas dan kesegaran ikan sebelum dipasarkan kepada konsumen.
Baca Juga :Terpilih Aklamasi, Lili Soemantri Resmi Pimpin BPC Gapensi Ciamis Periode 2026–2031
Herry mengingatkan agar seluruh bantuan digunakan secara optimal sesuai kebutuhan usaha, bukan untuk kepentingan di luar kegiatan perikanan.
Dukungan lainnya berupa mesin pembuat bakso ikan yang diberikan kepada tiga kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan (Poklasar).
Ketiga penerima tersebut yakni Kelompok Lawang, Kelompok Bojongsari atau Poklasar Kubis, serta Kelompok Jlegong atau Poklasar Jegni.
Melalui bantuan mesin pengolahan, para pelaku usaha didorong mengembangkan produk berbahan dasar ikan yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Salah satu produk yang dinilai berpotensi dikembangkan adalah bakso ikan. Selain menjadi alternatif makanan berprotein, produk tersebut memiliki peluang pasar di kawasan perkotaan.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ciamis, Anton Wahyu Radityananto, menjelaskan bahwa Gemarikan merupakan program berkelanjutan untuk meningkatkan konsumsi protein hewani di masyarakat.
Pelaksanaannya melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai unsur masyarakat, termasuk Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan).
Anton mengungkapkan, dukungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun ini mencakup lebih dari 1.000 paket bantuan.
Sementara di Kabupaten Ciamis, distribusi produk olahan ikan telah menjangkau lebih dari 5.000 paket dengan berbagai jenis makanan, mulai dari sosis, bakso, hingga es krim berbahan ikan.
“Tahun ini paket bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mencapai lebih dari 1.000 paket, bahkan di tingkat Kabupaten Ciamis terdistribusi lebih dari 5.000 paket olahan ikan seperti sosis, es krim, dan bakso ikan,” jelas Anton.
Ia menambahkan, pengembangan sektor perikanan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca Juga : Pemkab Ciamis Serahkan Bantuan Alsintan kepada Petani, DPR RI Soroti Penyaluran Pupuk Subsidi
Untuk memastikan pemerataan bantuan, pemerintah menerapkan ketentuan bahwa kelompok penerima tidak dapat memperoleh hibah berulang berupa barang dengan jenis yang sama.
Meski demikian, bantuan lanjutan tetap dimungkinkan apabila ditujukan untuk meningkatkan kapasitas usaha, seperti pengadaan mesin pembeku atau freezer setelah sebelumnya menerima peralatan produksi lainnya.
Di sisi lain, Anton turut menyoroti potensi dampak musim kemarau terhadap keberlangsungan usaha perikanan di Ciamis.
Menurutnya, kelompok usaha binaan dinas sejauh ini masih mampu menjalankan aktivitas produksi karena memiliki sistem pengelolaan kebutuhan air secara mandiri.
Meski sempat muncul persoalan pemanfaatan sumber air antara petani sawah dan pembudidaya ikan, kondisi kelompok binaan masih relatif terkendali.
Namun, pihaknya tetap mengantisipasi kemungkinan meningkatnya persaingan penggunaan air apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Wilayah Lakbok dan sekitarnya menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian karena berpotensi mengalami tekanan terhadap ketersediaan air.
“Jika kemarau berkepanjangan, potensi kendala dan gesekan terkait pasokan air bisa saja muncul di beberapa wilayah rawan seperti Lakbok dan sekitarnya. Oleh karena itu, kita terus memantau dan mengantisipasi dampak kekeringan tersebut,” pungkasnya. (Pepi Irawan/PasundanNews.com)



















































