Komite Masyarakat Adat DPM-Desa Provinsi Jawa Barat, Koordinator Wilayah Kota Banjar, Muhammad Syarif Hidayatullah atau yang akrab disapa Romo. Foto/Istimewa

BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Cara pandang masyarakat terhadap kebudayaan dinilai masih kerap terbatas pada seni pertunjukan dan tradisi semata.

Padahal, makna kebudayaan jauh melampaui hal-hal yang tampak secara fisik.

Hal ini ditegaskan oleh Koordinator Wilayah Kota Banjar Komite Masyarakat Adat DPM-Desa Provinsi Jawa Barat, Muhammad Syarif Hidayatullah, yang akrab disapa Romo.

Ia menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan sistem menyeluruh yang mencakup pola pikir, perilaku, serta hasil karya manusia yang terbentuk melalui proses belajar dalam kehidupan sosial.

Dengan demikian, kebudayaan tidak bisa dipersempit hanya pada aspek seni atau ritual adat.

“Budaya itu mencakup seluruh cara hidup manusia. Mulai dari bagaimana kita berpikir, bertindak, hingga karya yang dihasilkan dan diwariskan antar generasi,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).

Romo menambahkan, secara bahasa, istilah kebudayaan berasal dari kata Sanskerta buddhayah, bentuk jamak dari buddhi yang berarti akal atau budi.

Artinya, kebudayaan sangat berkaitan erat dengan kemampuan manusia dalam menggunakan pikiran dan kreativitasnya.

Ia juga mengacu pada pandangan antropolog Koentjaraningrat yang membagi kebudayaan dalam tiga wujud, yakni gagasan atau ide yang bersifat abstrak, aktivitas manusia yang berpola dalam kehidupan sehari-hari, serta artefak atau hasil karya yang dapat dilihat secara fisik.

Menurutnya, kesenian hanyalah salah satu bagian dari kebudayaan.  Sementara itu, aspek lain seperti bahasa, sistem kepercayaan, pola kerja, hingga interaksi sosial juga merupakan elemen penting yang membentuk identitas suatu masyarakat.

“Kalau kita hanya fokus pada seni, itu baru sebagian kecil. Cara kita berkomunikasi, sistem sosial, hingga keyakinan juga bagian dari budaya,” jelasnya.

Dalam perspektif yang lebih luas, kebudayaan memiliki unsur universal yang hadir di setiap komunitas, di antaranya bahasa, pengetahuan, organisasi sosial, sistem ekonomi, religi, teknologi, dan kesenian.

Semua unsur tersebut saling berkaitan dalam membentuk karakter sebuah masyarakat.

Romo menekankan bahwa kebudayaan tidak diwariskan secara biologis, melainkan dipelajari melalui proses sosial. Oleh karena itu, keluarga, lingkungan, dan pendidikan memiliki peran vital dalam menanamkan nilai-nilai budaya.

“Kebudayaan itu dipelajari, bukan bawaan lahir. Lingkungan dan pendidikan sangat menentukan bagaimana nilai budaya itu tumbuh dalam diri seseorang,” katanya.

Ia juga menyoroti peran seni budaya sebagai sarana ekspresi estetika manusia yang memiliki fungsi luas, mulai dari hiburan, media komunikasi nilai, hingga bagian dari ritual dan penguatan identitas.

Di tengah perkembangan zaman, seni budaya terus mengalami penyesuaian tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Karena itu, pemahaman yang utuh tentang kebudayaan dinilai penting agar upaya pelestarian dan pengembangannya berjalan seimbang.

“Ketika kita memahami budaya secara menyeluruh, kita akan lebih bijak dalam menjaganya. Seni budaya memang penting, tapi itu hanya satu bagian dari keseluruhan kebudayaan,” pungkasnya.(Hermanto/PasundanNews.com)