BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Universitas Galuh (Unigal) kembali menegaskan perannya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Konservasi dan Budaya Periode I Tahun Akademik 2025/2026.
Sebanyak 493 mahasiswa secara resmi dilepas untuk melaksanakan KKN di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menandai langkah kolaborasi lintas provinsi yang strategis.
Prosesi pelepasan berlangsung khidmat di halaman Kampus Unigal, Selasa (03/02/2026) pagi.
Ratusan mahasiswa yang berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta Fakultas Teknik tersebut akan menjalankan pengabdian selama enam minggu dengan fokus utama pada penerapan teknologi tepat guna bagi pembangunan desa.
Kepala Seksi Pengabdian dan KKN LPPM Unigal, Dendy Syaiful Akbar, menyampaikan bahwa pelaksanaan KKN kali ini merupakan bentuk kerja sama konkret antara Universitas Galuh dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap.
Baca Juga :Menteri LHK Tinjau Langsung Pengelolaan Lingkungan di Ciamis, Bupati Herdiat Tegaskan Komitmen Raih Adipura
“Ini bukan sekadar program rutin akademik, melainkan bentuk sinergi lintas provinsi. Hari ini mahasiswa resmi diberangkatkan ke Cilacap. Sekitar 100 perwakilan mahasiswa akan diterima langsung oleh Bupati Cilacap, sementara mahasiswa lainnya langsung menuju desa lokasi KKN didampingi Dosen Pembimbing Lapangan,” ujar Dendy.
Mengusung tema “Literasi Konservasi dan Budaya Berbasis Teknologi Tepat Guna sebagai Fondasi Pembangunan Berkelanjutan Masyarakat Desa”, mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi potensi sekaligus permasalahan desa, kemudian menawarkan solusi inovatif yang aplikatif.
Sebanyak 18 desa menjadi sasaran KKN, yang tersebar di dua kecamatan, yakni 13 desa di Kecamatan Wanareja dan 5 desa di Kecamatan Kedungreja.
Seluruh lokasi tersebut telah melalui proses pemetaan dan persiapan sejak November 2025.
Dendy menambahkan, selama masa KKN yang berlangsung hingga 10 Maret 2026, mahasiswa akan diarahkan untuk mengintegrasikan pelestarian lingkungan dan budaya lokal dengan inovasi teknologi yang mudah diterapkan oleh masyarakat.
“Kami berharap mahasiswa tidak hanya hadir secara seremonial, tetapi benar-benar membawa solusi nyata. Dampaknya harus terukur, berkelanjutan, sekaligus menjadi sarana pembelajaran etika, kolaborasi lintas disiplin, dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya,” pungkasnya. (Pepi Irawan/PasundanNews.com)




















































