BERITA CIAMIS, PASUNDANNEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Ciamis mulai mendorong Koperasi Desa/Kel
urahan Merah Putih (KDKMP) mengambil peran lebih besar dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.
Koperasi tidak hanya diarahkan sebagai lembaga ekonomi desa, tetapi juga sebagai penghubung rantai produksi, pengolahan, hingga pemasaran komoditas lokal.
Upaya tersebut dikembangkan melalui Sistem Hilirisasi Terintegrasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (SIHATI-KDKMP).
Program ini dirancang untuk membangun pola usaha yang mengintegrasikan potensi produksi masyarakat desa dengan kebutuhan pasar dan industri.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Ciamis, Dadan Wiadi, ST., MT., MMG., mengatakan SIHATI-KDKMP merupakan upaya untuk memastikan keberadaan KDKMP memberikan manfaat ekonomi yang lebih konkret bagi masyarakat.
Menurut Dadan, koperasi nantinya berperan mengonsolidasikan hasil produksi petani maupun pelaku usaha di desa sebelum masuk ke tahapan pengolahan dan pemasaran.
Dengan pola tersebut, mata rantai usaha diharapkan menjadi lebih terorganisasi dan memberikan nilai tambah terhadap produk lokal.
Baca Juga :Bupati Ciamis Minta Sinkronisasi Data Stunting Pusat dan Daerah
“Konsepnya membangun rantai nilai dari hulu sampai hilir. Produsen di desa dikonsolidasikan oleh KDKMP, kemudian diarahkan ke proses hilirisasi, kemitraan dengan UMKM atau industri, hingga produk terserap pasar. Teknologi digital juga menjadi bagian penting untuk mendukung transparansi dan tata kelola,” ujar Dadan saat ditemui di kantornya, Rabu (30/9/2026).
Pengembangan SIHATI-KDKMP dilakukan dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai unsur.
Pemerintah daerah berperan dalam arah kebijakan dan dukungan teknis, sementara pemerintah desa, pengurus koperasi, kelompok tani, peternak, serta pelaku UMKM menjadi bagian dari penggerak di lapangan.
Kolaborasi juga diarahkan dengan melibatkan perbankan, perguruan tinggi, sektor logistik, platform digital dan pelaku industri.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkuat akses permodalan, teknologi, pengolahan serta kepastian pasar bagi produk yang dihasilkan masyarakat desa.
Untuk menguji penerapan konsep tersebut, Pemkab Ciamis telah menyiapkan dua wilayah sebagai proyek percontohan.
KDKMP Muktisari menjadi salah satu lokasi yang dikembangkan dengan sejumlah komoditas, antara lain bawang merah, durian dan perikanan.
Selain itu, potensi limbah peternakan berupa kotoran hewan juga diarahkan untuk diolah menjadi pupuk organik.
Khusus komoditas bawang merah, KDKMP Muktisari telah membangun kemitraan dengan investor dan offtaker.
Skema tersebut ditujukan untuk memperkuat kepastian penyerapan produksi sekaligus membuka peluang pengembangan usaha koperasi.
Baca Juga :Diduga Korsleting Listrik, Sebuah Rumah di Rejasari Kota Bajar Terbakar
Sementara itu, KDKMP Cijeungjing diarahkan mengembangkan komoditas jagung. Koperasi diproyeksikan menjadi bagian dari hub rantai pasok yang mempertemukan produksi petani dengan industri atau pabrik pakan ternak.
Dadan menyebut kedua pilot project tersebut akan menjadi bahan evaluasi sebelum konsep SIHATI-KDKMP diterapkan di wilayah lain.
“Kalau model di dua lokasi ini berjalan dan menunjukkan hasil, pola bisnisnya bisa direplikasi ke desa-desa lain yang memiliki kesiapan komoditas dan potensi lahan,” katanya.
Agar program memiliki landasan yang jelas dan dapat berjalan secara berkelanjutan, Pemkab Ciamis juga tengah menyiapkan perangkat regulasi. Di antaranya melalui penyusunan standar operasional prosedur (SOP) serta regulasi dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Bupati.
Ke depan, SIHATI-KDKMP ditargetkan tidak hanya memperkuat kelembagaan koperasi, tetapi juga meningkatkan aktivitas perdagangan antarkoperasi dan memperluas jaringan offtaker.
“Harapannya, SIHATI-KDKMP dapat menjadi fondasi pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis desa yang mandiri, memiliki nilai tambah dan berkelanjutan di Kabupaten Ciamis,” pungkas Dadan. (Pepi Irawan/PasundanNews.com)



















































