Proses pembuatan gula semut atau Kristal secara tradisional di Desa Tunggilis Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran. Foto/Deni Rudini.PasundanNews.com

BERITA PANGANDARAN, PADUNDANNEWS.COM –Proses pembuatan gula semut atau Kristal secara tradisional masih terus dipertahankan oleh para petani di wilayah Pangandaran.

Salah satunya dilakukan oleh Taswan, petani asal Dusun Sirungwatang, RT 007 RW 009, Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. Senin (7/7/2025)

Setiap hari, Taswan mengolah nira aren menjadi gula semut atau Kristal. Prosesnya cukup panjang dan menuntut ketelatenan.

Dalam sehari, ia mampu memproduksi sekitar 9 hingga 11 kilogram gula semut siap jual.

Gula semut yang dihasilkan Taswan kemudian dijual kepada penggepul dengan harga Rp.20.000 per kilogram.

Jika produksi mencapai 11 kilogram, ia bisa memperoleh pendapatan hingga Rp. 220.000 per hari.

Menurut Taswan, pembuatan gula semut jauh lebih rumit dibandingkan dengan cetakan gula batok atau gula koin.

Baca Juga :Bupati Pangandaran Kukuhkan Ratusan Paskibra Tingkat SMP dan SMA

“Kalau gula batok tinggal cetak, tapi gula semut harus diaduk terus-menerus sampai kering,” jelasnya saat ditemui di rumah produksinya.

Proses awal dimulai dari penyadapan nira aren, lalu dimasak selama beberapa jam hingga mengental.

Setelah itu, cairan gula tersebut terus diaduk hingga menjadi butiran halus dan kering. Proses pengadukan ini menjadi titik krusial dalam menentukan kualitas gula semut.

Selain lebih sulit, produksi gula semut juga memerlukan ketelitian agar hasilnya tidak menggumpal atau gosong.

Namun demikian, permintaan pasar terhadap gula semut organik cukup tinggi karena dianggap lebih sehat.

“Meski capek, tapi alhamdulillah hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambah Taswan.

Taswan berharap ada perhatian dari pemerintah daerah agar pelaku usaha gula semut bisa mendapat pelatihan, bantuan alat produksi modern, serta perluasan akses pasar.

(Deni Rudini/PasundanNews.com)