Ruliyanto, maestro terompet pencak Kota Banjar. Foto/Hermanto.Pasu.danNews.com

BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Ruliyanto (53), warga Sukarame, Mekarsari, Kota Banjar, telah menggeluti seni tiup terompet pencak silat sejak tahun 90-an.

Pria yang akrab disapa Yanto ini telah menguasai berbagai teknik dalam meniup terompet ibing pencak silat, sebuah seni yang semakin langka di Kota Banjar.

“Dari kecil, saya sudah tertarik dengan seni tiup terompet ini. Saya belajar secara otodidak dan terus mengasah kemampuan hingga sekarang,” ungkap Yanto kepada pasundannews.com, Minggu (9/6/2024).

Keahlian Yanto ini tidak terlepas dari terompet warisan yang ia miliki.

Terompet tersebut adalah pemberian dari Kang Uyeh, maestro terompet pencak dari Cimaragas, Kabupaten Ciamis.

Bagi Yanto, terompet ini bukan hanya alat musik, tetapi juga simbol perjuangan dan warisan budaya yang harus dilestarikan.

Baca Juga : Kang Danial Dikukuhkan Sebagai Ketua Paguyuban Pencak Silat Kota Banjar 

“Kang Uyeh adalah panutan saya. Terompet ini adalah warisan darinya, dan saya merasa bertanggung jawab untuk meneruskan tradisi ini kepada generasi muda,” ungkapnya.

Sayangnya, menurut Yanto, sangat jarang anak muda di Kota Banjar yang tertarik atau mampu meniup terompet pencak.

Hal ini membuatnya khawatir bahwa seni tradisional ini bisa punah jika tidak ada upaya serius untuk melestarikannya.

“Generasi muda sekarang kurang tertarik dengan seni tradisional. Padahal, seni tiup terompet ini memiliki nilai budaya yang tinggi,” katanya.

Untuk mengatasi hal ini, Yanto memiliki keinginan besar untuk mengembangkan bakatnya dan mengajarkan seni tiup terompet kepada generasi penerus.

Namun, ia menghadapi kendala dalam hal produksi terompet. Ia membutuhkan mesin bubut untuk memproduksi terompet secara mandiri.

“Di Banjar ini sebenarnya banyak limbah kayu yang bisa dimanfaatkan untuk membuat terompet. Kita tidak perlu selalu membeli dari luar kota,” jelas Yanto.

Dengan adanya mesin bubut, Yanto berharap bisa memproduksi terompet secara lokal dan lebih terjangkau.

Hal ini juga bisa membuka peluang bagi anak muda Banjar untuk belajar dan mendalami seni tiup terompet pencak silat.

“Jika kita bisa membuat terompet sendiri, akan lebih banyak anak muda yang tertarik. Mereka bisa belajar dan menjadi penerus seni tradisional ini,” harapnya.

Yanto berharap pemerintah daerah atau pihak terkait bisa membantu mewujudkan impiannya ini.

Baginya, melestarikan seni tiup terompet pencak bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga mengembangkan potensi lokal dan memanfaatkan sumber daya yang ada di Banjar.

“Dengan dukungan yang tepat, saya yakin kita bisa melestarikan seni tiup terompet ini. Orang Banjar juga bisa membuat atau memproduksi terompet pencak dengan kualitas yang baik,” pungkas Yanto penuh semangat.

(Hermanto/PasundanNews.com)