Ilustrasi studi tour naik bus. Foto/Istimewa

BERITA BANJAR, PASUNDANNEWS.COM – Sejumlah wali murid atau orang tua siswa di Kota Banjar meminta pemerintah untuk meninjau ulang program study tour.

Permintaan ini muncul setelah adanya kecelakaan maut di Ciater, Subang, yang menewaskan 11 orang penumpang dari salah satu sekolah di Depok.

Dede Hardiman, salah satu orang tua, mengatakan, pemerintah melalui sekolah dan dinas terkait harus meninjau ulang program study tour.

Menurutnya, sekarang ini kebanyakan bukan study tour melainkan hanya piknik.

“Jika bisa, pertimbangkan lagi terkait program study tour. Dengan terjadinya kecelakaan, saya sebagai orang tua jadi merasa khawatir terhadap anak saya,” ujarnya kepada PasundanNews, Senin (13/5/2024).

Sementara itu, Deni Muplihin, orang tua lainnya, menambahkan, bahwa study tour dengan kondisi ekonomi sekarang harus dipertimbangkan kembali.

Selain itu juga perlunya detail kelaikan jalan armada transportasi yang digunakan serta pengujian ulang sebelum berangkat oleh instansi terkait.

Deni juga mengapresiasi pemerintah kota Banjar melalui Dinas Pendidikan yang telah memperketat izin program study tour.

“Pihak sekolah juga jangan asal pilih armada. Mobil yang akan digunakan, wajib untuk diperiksa terlebih dahulu untuk kelaikan jalannya oleh instansi terkait,” katanya.

Orang tua pun merasa khawatir akan kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama study tour, seperti trauma dan rasa takut pada anak-anak mereka.

Program studi Tour Sekolah, Dr. Asep Mulyana Angkat Bicara 

Pengamat Demokrasi, Pendidikan dan Pembangunan Sosial, Dr. Asep Mulyana turut angkat bicara terkait adanya program studi tour sekolah.

Menurutnya, study tour yang diselenggarakan sekolah nyaris tidak ada bedanya dengan piknik biasa. Namun  studi tour dan piknik merupakan dua kegiatan yang berbeda.

Bah Asmul sapaan akrab doktor lulusan Gadjah Mada ini pun tak menampik kegiatan study tour juga mencakup unsur-unsur piknik.

“Memang ada waktunya untuk bersantai, menikmati alam, atau mengunjungi tempat-tempat wisata dalam study tour. Namun, titik berat study tour terletak pada aspek pembelajaran,” ujarnya.

Sementara lanjutnya, kegiatan piknik lebih menekankan kepada aspek rekreasi untuk bersenang-senang.

Ia menambahkan, study tour adalah perjalanan yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan serta melibatkan guru dan siswa.

Esensi dari study tour tersedianya ruang pembelajaran yang tak selalu bisa dihadirkan di dalam kelas, utamanya dalam pembelajaran tentang industri, sejarah, ataupun budaya.

“Peserta study tour diarahkan sekolah untuk mempelajari hal-hal yang nyata dan tak selalu hadir dalam text book, karena terbatasnya ruang kelas.

‘Kunjungan ke lokasi industri, museum, situs sejarah menjadi penting bagi siswa dan guru untuk memperoleh ilmu dan cerita menarik yang tak disuguhkan dalam buku teks,” katanya.

Namun, patut disayangkan, study tour hanya berhenti sebagai kegiatan piknik saja. Unsur pembelajaran yang penting tereduksi menjadi kegiatan rekreasi.

“Sayang sekali jika porsi pembelajaran dalam study tour digantikan oleh kegiatan luar ruangan tanpa pembelajaran yang berarti,” kata pria berkepala plontos itu.

Menurutnya, pihak sekolah atau panitia study tour perlu menetapkan tujuan pembelajaran yang jelas, menyusun kegiatan pembelajaran terstruktur dengan pembimbing yang kompeten.

Kemudian pastikan kesiapan panitia pelaksana, termasuk menghitung aspek keselamatan siswa atau peserta Study tour.

“Hal ini penting agar study tour tak hanya membuahkan pengalaman pembelajaran yang efektif, menyenangkan bagi siswa, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan pembelajaran dalam kurikulum sekolah,” pungkasnya.

(Hermanto/PasundanNews.com)