Beranda Opini Partisipasi Pilkada Tasikmalaya akan ‘Naik’ Jika KPU Mampu Optimalkan Beberapa Hal

Partisipasi Pilkada Tasikmalaya akan ‘Naik’ Jika KPU Mampu Optimalkan Beberapa Hal

(foto: Istimewa)

Oleh : Bayu Bambang Nurfauzi, S.Pd *)

Pada awal bulan Maret 2020, Sigma Perspektif Indonesia (SPRINDO) melakukan Survei Persepsi Masyarakat terkait Pelaksanaan Pilkada Bupati tahun 2020. Survei ini merangkum hasil bahwa sekitar 97,01% menyatakan akan ikut berpartisipasi dan sekitar 2.99% menyatakan masih berpikir untuk ikut memilih dalam pelaksaaan Pilkada Bupati 2020.

Hal ini sungguh menggembirakan bukan? walau hasil survei ini dilakukan 6 bulan sebelum pemilihan, tetapi jika dibandingkan dengan partisipasi pemilih Tasikmalaya 2015 total partisipasi pemilih mencapai 58,81 %. Sehingga dapat menjadi catatan penting oleh KPU dalam penyelenggaraan Pilkada tahun ini, karena kita tahu keberhasilan pelaksanaan pemilu akan tercapai jika partisipasi pemilihnya tinggi di suatu daerah.

Hasil survei dikaji menggunakan metodologi indepth survey yang diperkuat dengan jurnal terkait seperti faktor apa saja yang mempengaruhi partisipasi pemilih pada Pilkada Bupati 2015. Faktor tersebut terbagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internal diantaranya pertama terkait faktor teknis. Seperti letak TPS yang tidak terjangkau oleh pemilih, terutama untuk pemilih yang bertempat tinggal dipelosok daerah. Kedua, faktor pekerjaan. Yang mana masyarakat Tasikmalaya sendiri banyak sekali yang bermata pencaharian sebagai perantau. Mereka bekerja dan memiliki usaha di luar daerah Tasikmalaya. sehingga saat pemilihan kepala daerah tidak berada di kampung halamannya.

Sedangkan, faktor eksternal yang membuat partisipasi pemilih rendah diantaranya pertama, faktor adminitratif. Pemilih memiliki KTP setempat namun tidak terdaftar sebagai pemilih di situs resmi KPU, kedua, faktor sosialisasi yang tidak sampai dengan baik kepada pemilih. Ketiga, faktor pendidikan yang menganggap bahwa pemilihan kepala daerah tidak berpengaruh dengan penghidupan ekonomi mereka. Keempat, faktor politik yang menganggap bahwa partai politik tidak bisa dipercaya dan hanya berusaha mendapatkan kekuasaan untuk kepentingan partai politik itu sendiri.

Melihat dari karakteristik masyarakat yang meliliki jiwa sosial atau mempunyai kepedulian besar dalam social problem dan politik ekonomi, hal ini biasanya akan menjadi pemicu untuk bisa terlibat dalam pemilihan politik atau aktifitas politik. Karakter sosial seseorang yang menyangkut status sosial ekonomi, kelompok ras, etnis, gender, agama dan masyarakat di lingkungan sosial dapat mempengaruhi persepsi dan sikap para pemilih. Tetapi dengan kondisi pemilih yang mencapai 58,81% pada 2015 dengan adanya kotak suara kosong menjadikan pemilihan sebelumnya menjadi tidak menarik bagi masyarakat. Dengan dioptimalkannya sosialisasi yang mengikutsertakan peran tokoh-tokoh penting di masyarakat akan memberikan hal-hal yang lebih rasional dan menghargai nilai-nilai keterbukaan, kejujuran, dan keadilan dalam pendidikan serta partisipasi politik. Kondisi lingkungan politik demikian menjadikan masyarakat dengan senang hati berpartisipasi dalam kehidupan berpolitik pula.

Hal tersebut menjadi sangat penting sebagai masukan untuk penyelenggaraan pemilihan Bupati tahun 2020 di Tasikmalaya. Mengingat, untuk terus bekerja lebih keras lagi, bagaimana melakukan sosialisasi yang efektif dan efisien. Penyelesaain masalah terkait teknis pelaksanaan pemilih juga mengubah persepsi masarakat akan pentingnya Pilkada Bupati 2020 untuk menghasilkan pemimpin yang diharapkan masyarakat, sehingga pencapaian diraih dengan maksimal.

*) Peneliti di Sigma Perspektif Indonesia (SPRINDO)