Beranda Bandung Raya Difabel Asal Cisomang Barat Tolak Jadi Pengemis

Difabel Asal Cisomang Barat Tolak Jadi Pengemis

Uwes Kurni (kiri) dan Wildan Wiguna (kanan) tunjukan salah satu barang yang dijajakannya di Warung Kopi Difabel, Rabu (03/04).

PASUNDANNEWS.COM, KBB — Uwes Kurni (31) penyandang disabilitas asal Kampung Cibungbulang RT 01 RW 11, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat pelopori membuka warung kopi difabel. Menariknya, setiap hari Jumat, warung kopi difabelnya tidak pernah mematok harga melainkan menerima bayaran seikhlasnya dari pengunjung.

Bertempat di sebelah tempat pencucian motor milik Wildan Wiguna (25), seorang pengidap TBC Tulang, warung kopi difabel milik Uwes berdiri. Berbekal dari kerjasama di antara keduanya, Uwes mengandalkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjajakan kopi, makanan ringan, serta berbagai merchandise seperti baju-baju Persib dan tas.

Uwes mengatakan, warungnya belum genap satu bulan didirikan, setiap hari Jumat, kopi di warungnya dipersilakan bagi pengunjungnya dibayar secara sukarela bahkan digratiskan kepada pengunjung yang mampir namun tidak memiliki uang.

“Kalau tak punya uang tapi pengen ngopi tinggal bilang saja, sengaja setiap Jumat saya berlakukan begitu supaya masyarakat tidak memandang difabel itu sebagai orang yang harus dikasihani,” kata Uwes, Rabu (03/04).

Disebutkan Uwes, di Desa Cisomang Barat sendiri ada sekitar 60 orang penyandang disabilitas namun yang aktif berkegiatan di kecamatan hanya setengahnya saja.

“Dari 30 difabel semuanya terbedayakan ada yang menjahit, servis komputer, buka warnet,” terangnya.

Sebagai penyandang disabilitas, Uwes mengakui, banyak orang yang merasa kasihan terhadap kondisi fisiknya bahkan mirisnya lagi, keadaan fisiknya yang tidak ‘sempurna’ ini disarankan orang untuk mendapatkan rupiah melalui jalan mengemis.

“Tapi saya tidak mau, karena saya mampu mencari rezeki, dulu juga sebelum buka warung kopi ini saya sempat berjualan pulsa,” ungkapnya.

Meski serba kesulitan, Uwes menerangkan, hidup berdua dengan keponakannya karena empat saudara kandung beserta ayah dan ibunya telah meninggal dunia, semangat dalam hidupnya tetap bergejolak.

“Jangan kasihan melihat tubuh kami yang seperti ini tapi kasihan lah pada mereka yang tegap melangkah namun lumpuh di dalam semangat,” tandasnya. (AL)