Beranda Opini Tahun Politik, Jabar Battle of Field

Tahun Politik, Jabar Battle of Field

Seminggu kemaren di Bandung ada dua isu yg agak menghangat.

Pertama, teriakan @prabowo oleh bobotoh dihadapan Kang @ridwankamil saat @persib_official melawan arema fc sehingga Hal tersebut menjadi ke khawatiran terkait pembukaan piala presiden yang akan dibuka oleh presiden @jokowi .
Kedua, tiba – tiba muncul pihak yang kontra dengan Taman @dilanku yang diresmikan oleh Kang @ridwankamil dengan maksudnya sebagai apresiasi terhadap karya fenomenal ayah @pidibaiq agar menjadi sumber inspirasi bagi warga Bandung khususnya dan Jabar pada umumnya.

Ini tahun politik, dan memang hari ini Jawa Barat menjadi Battle of Field bagi kontestasi pemilihan presiden, ini dulu yang perlu dipahami bersama masyarakat Jawa Barat.

Sehingga kedua Hal tersebut pun memang terjadi dan menghangat karena pilihan politik dari kang @ridwankamil yang mendukung petahana juga bermain di film dilan, Kang @hmfarhan yang sebelumnya adalah humas di persib, saat ini menjadi caleg lewat nasdem dan main film dilan juga, serta Kang @derektea yang caleg lewat psi dan Kang @dj.ureh yang juga caleg lewat nasdem dianggap mempolitisasi bobotoh untuk di klaim mendukung pasangan petahana.

Bobotoh (puluhan juta jumlahnya) dan fans dilan (jutaan jumlahnya) ini, bagi para politisi adalah ceruk suara yang besar dan potensial untuk memenangkan maksud politik masing-masing.

Kalau Kita periksa berbagai komentar netizen khususnya warga Jabar, Kita bisa mengklasifikasikan sebagai berikut:

Perihal, bobotoh yg berteriak prabowo di stadion ada dua alasan paling tidak:
1. Bobotoh tidak suka persib dan bobotoh dipolitisasi sehingga mereka meneriakan @prabowo distadion sebagai bentuk perlawanan terhadap @ridwankamil @dj.ureh @derektea walaupun belum tentu bobotoh yg berteriak tersebut memilih prabowo
2. Bobotoh yang memang sudah terpolarisasi pilihan politiknya kepada @prabowo sehingga memang melakukan tindakan seperti itu dan memanfaatkan momentumnya.

Begitupun perihal Taman @dilanku juga ini ada dua alasan yang berkembang :
1. Pihak-pihak yang murni ingin ngamumule budaya Sunda, dan melihat bahwa sosok dilan ini memiliki citra negatif karena suka melawan guru, anak geng motor sehingga tidak pantas untuk dijadikan Taman atau pojok dilan, lebih baik tokoh Sunda lain yg bermanfaat.
2. Pihak lawan dari Kang @ridwankamil dan petahana yang memanfaatkan momentum untuk “menjatuhkan” citra politiknya.

Harapannya masyarakat Bandung khususnya dan warga Jawa Barat pada umumnya, dapat menahan diri di tahun politik ini dan jangan sampai terpecah belah oleh hal-hal tersebut.

Terutama jangan sampai sikap Kita sebagai masyarakat yang sebenernya mengemukakan pendapat dengan idealis dalam menyikapi kedua persoalan diatas namun dimanfaatkan secara negatif oleh politisi (dari pihak manapun) yang mencoba mengambil keuntungan dari hal -hal tersebut.

Begitulah kurang lebih kedua Hal tersebut menjadi menghangat tidak lepas juga kaitannya dengan situasi politik Hari ini dan sekali lagi jabar merupakan “Medan Tempur” perpolitikan nasional Hari ini, siapa memenangkan Jawa Barat maka dia yang akan memenangkan kontestasi di 2019 ini.

Maka dari itu kurangilah komentar-komentar yang pada akhirnya hanya akan mecah belah. Harga persatuan bangsa ini lebih Mahal dibandingkan pilihan politik jangka pendek, oleh karena itu Kita harus merawatnya dengan baik.

Penulis
Guruh Muamar Khadafi

Pengamat Politik Pemerintahan.
Sekjen Keluarga Alumni Ilmu Pemerintahan Unpad.
Mantum HMI Jatinangor 2011-2012.