Beranda Opini Bandara Husein Sastranegara Ditutup, Haruskah?

Bandara Husein Sastranegara Ditutup, Haruskah?

WACANA penutupan bandara Husein Sastranegara sebagai bandara komersial kembali terhembuskan setelah debat pilpres jilid-2 yang lalu. Dalam menanggapi kritik sepi nya penggunaan infrastruktur, presiden Jokowi selaku pertahana mengatakan setelah tol Cisumdawu rampung, maka seluruh flight dari dan menuju badara Husein di kota Bandung akan dipindahkan menuju Kertajati dan bandara sehingga bandara tersebut akan ramai. Namun apakah hal tersebut benar akan menjadi solusi efektif bagi Bandara Kertajati? Dan apakah Bandara Husein Sastranegara harus benar-benar ditutup dari penerbangan komersial?

Menurut opini saya, kedua bandara tersebut bisa hidup tanpat mematikan penerbangan komersial di salah satu bandara.  Justru, dengan mematikan penerbangan dari salah satu bandara yang menjadi gerbang masuk udara utama di Jawa Barat, ditakutkan malah menjadi blunder kebijakan yang terjadi, sehingga terjadi dampak yang kurang bagus bagi sector perekonomian dan pariwisata, serta bagi bandara itu sendiri.

Bandara Kertajati dan Husein Sastranegara bukanlah bandara dengan karakteristik yang sama, sehingga sebenarnya bisa memiliki fungsi sendiri-sendiri. Bandara Kertajati merupakan bandara yang di design untuk penerbangan internasional. Bandara Kertajati sendiri memiliki main runway sepanjang 2500M dan akan diperpanjang menjadi 3000M. Perluasan apron juga telah rampung, sehingga Bandara Kertajati dapat menampung pesawat berbadan besar seperti pesawat Boeing B-777 atau Airbus A-330 yang efektif untuk penerbangan jarak jauh.  Mengingat lahan disekitar Bandara kertajati sendiri masih luas, bandara ini masih sangat mungkin untuk dikembangkan lagi kedepannya

Nah kelebihan ini lah yang tidak dimiliki oleh bandara Husein Sastranegara. Bandara Husein sendiri memiliki panjang runway kurang lebih 2250M. Dengan panjang runway yang tidak terlalu panjang, bandara Husein hanya bisa menampung maksimal pesawat berbadan medium sepeti Boeing B-737 dan Airbus A-320 yang hanya  mampu melayani penerbangan jarak pendek dan menengah . Namun bandara Husein sudah sangat sulit untuk dikembangkan menjadi bandara yang selevel dengan bandara Kertajati karena keterbatasanan lahan.  Selain itu, memang bandara Husein Sendiri masih harus berbagi penerbangan dengan penerbangan militer karena bandara Husein yang berstatus sebagai Civil Enclave Airport.

Namun, bandara husein memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh bandara Kertajati, yaitu kemudahan akses. Banyak wisatawan dan pengusaha, terutama pengusaha tekstil, yang mempergunakan bandara Husein sebagai gerbang keluar masuk Jawa Barat. Kemudahan akses menjangkau tempat wisata yang berada disekitaran bandung menjadikan bandara Husein selalu ramai dikunjugi wisatawan, apalagi saat ini ada direct flight yang menghubungkan Bandung dengan daerah wisata lainnya, seperti Bali, Lombok, Yogyakarta, bahkan Malaysia dan Singapura. Selain itu, banyak perusahaan dan pabrik tekstil  dan garmen disekitaran Bandung juga memicu perkembangan yang baik bagi bandara Husein. Banyak pengusaha tekstil dan garmen  baik dari wilayah Jawa Barat maupun Malaysia yang sering bolak-balik Bandung – Kuala Lumpur atau Singapura hampir setiap minggu (bahkan dalam hitungan hari) menggunakan jasa penerbangan yang sudah tersedia untuk menjalankan bisnis mereka.Singkat kata, hingga saat ini bandara Husein masih mejadi salah satu bandara yang vital bagi kegiatan perekonomian dan pariwisata yang berada dalam wilayah Bandung Raya.

Nah pemindahan seluruh penerbangan komersial ke Kertajati dikhawatirkan akan menurunkan trend positif disektor pariwisata dan ekonomi yang sudah berjalan dengan baik diwilayah Bandung dan sekitarnya ini. Alasannya utamanya simple, kemudahan akses yang tadinya sudah terbuka malah jadi tertutup lagi. Memang tol Cisumdawu menjadi jalan penghubung antara Bandung dan Kertajati, namun secara cost dan waktu, apa akan lebih murah dan lebih efektif untuk menuju Bandung? Lalu apakah orang yang akan/menuju Bandung  tetap memilih bandara Kertajati sebagai pilihan gerbang udaranya apabila bandara Husein ditutup ? Jawabannya belum tentu.

Jujur saja, saat ini tiket penerbangan dari kota Bandung lebih mahal dibandingkan tiket penerbangan dari bandara Soekarno-Hatta. Hal ini berarti, apabila tiket penerbangan dari Kertajati yang kemungkinan besar tidak akan berbeda jauh dengan tiket penerbangan dari kota Bandung, akan tetap dinilai mahal oleh para wisatawan atau pengusaha, ditambah lagi mereka harus mengeluarkan cost ekstra untuk  menuju bandara tersebut seperti halnya dengan pergi ke Cengkareng. Nah bedanya dengan Kertajati, Bandara Soerkarno Hatta kemungkinan besar memiliki harga tiket pesawat yang lebih murah ditambah dengan banyaknya pilihan flight yang tersedia.  Apabila hal ini terjadi, maka kemungkinan besar bandara Kertajati akan tetap sepi karena banyak calon penumpang yang akan lebih memilih kembali berangkat melalui Bandara Soekarno Hatta. Sama dengan hal nya para wisatawan yang akan berkunjung atau pergi dari kota Bandung,  yang kemungkinan besar akan menggunakan sarana transportasi kereta api untuk menuju destinasi wisata mereka selanjutnya.

Lalu bagaimana solusi untuk bandara Kertajati yang tepat? Seperti yang sudah saya utarakan di atas. Badara Husein dan Bandara Kertajati merupakan bandara dengan tipikal yang berbeda. Bandara Kertajati  mempunyai keunggulan untuk menampung pesawat besar yang memungkinkan untuk penerbangan internasional Jarak Jauh. Daripada menutup bandara Husein, menurut saya lebih baik, Beberapa Penerbangan Internasional yang ada di Bandara Soekarno-Hatta dipindahkan ke Kertajati. Atau, pemerintah mengundang beberapa Maskapai untuk membuka jalur penerbangan Internasional baru menuju Kertajati. Kertajati sendiri dekat dengan kawasan industry pantura, dimana penerbangan Internasional tersebut bukan hanya penerbangan khusus penumpang, melaikan penerbangan kargo untuk kargo udara juga sangat berpontesi untuk melakukan penerbanan nya dari atau ke bandara Kertajati ini. Apalagi saat ini banyak pesawat kargo udara yang menuju Cengkareng menggunakan pesawat Boeing B-747 dimana Bandara kertajati nantinya direncanakan akan mampu menampung pesawat Jumbo Jet ini.

Pemindahan sebagian perbangan dari Soekarno-Hatta ker Kertajati juga dapat mengurangi tingkat kepadatan lalu-lintas pesawat di Bandara soekarno-Hatta yang saat ini memang sudah sangat padat. Penerbangan Haji dan Umroh bagi masyarakat Jawa Barat juga dapat dilakukan dari Bandara Kertajati ini, dimana penerbangan haji /umroh tidak dapat dilakukan dari bandara Husein.  Bahkan, penerbangan Internasional dari bandara Kertajati ini sangatlah pontesial, bukan hanya untuk masyarakat Jawa bagian barat saja, bahkan untuk masayarakt yang tinggal di daerah Brebes, Tegal, Purwokerto, bahkan hingga Semarang dapat memanfaatkan Kertajati sebagai gerbang udara mereka untuk pergi keluar negeri karena jarah dari sebagian daerah Jawa Tengah ini lebih dekat ke Bandara Kertajati daripada harus pergi ke Jakarta atau Surabaya. Ditambah conektivitas tol transjawa yang sudah tersambung dengan baik dan mungkin jika pemerintah membangun shortcut rel kereta api dari stasiun Jatibarang menuju bandara Kertajati, Jakarta – Kertajati akan terlayani oleh kereta api dengan waktu tempuh kurang lebih hanya 3 jam saja dan dari Cirebon akan memakan waktu tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan menggunakan kereta api. Pembangunan jalur kereta antara Jatibarang-Kertajati pun kemungkinan besar tidak akan memakan biaya sebesar pembangunan jalur kereta api Bandung – Kertajati dimana harus menembus pegunungan antara Bandung-Sumedang terlebih dahulu dan jarak antara Jatibarang dan Kertajati yang relative singkat.

Nah pembagian peran seperti ini lah yang saya harapkan dari pemerintah untuk solusi bandara Kertajati yang masih sepi hingga saat ini, tanpa mematikan salah satu Bandara di Jawa Barat yang memang nantinya akan memiliki fungsi yang berbeda. Satu untuk penerbangan Internasional dan jarak jauh dimana akan membantu mengurangi kepadatan bandara Soekarno-Hatta, dan satu nya lagi tetap berjalan seperti biasa untuk penerbangan domestic dan internasional jarak pendek. Atau misalnya pemerintah “kekeuh” agar ada penerbangan domestic yang harus berangkat dari bandara Kertajati, maka saya sarankan untuk memindahkan penerbangan yang ada di Bandara Halim Perdanakusuma.

Kenapa? Alasannya karena walau sama-sama bandara militer, keberadaan Bandara Halim Perdanakusuma bagi skema pertahanan Indonesia bisa dikatakan “lebih penting” dari bandara Husein Sastranegara. Halim Perdanakusuma merupakan homebase dari Tiga skadron udara yang terdiri dari skadron udara-2, skadron udara-31, dan skadron udara-17 untuk kepentingan VIP. Halim juga memiliki satu skadron pemeliharaan dan dua skadron paskhas. Selain itu, menurut buku “Pertahanan Indonesia” karya bapak Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim,  bandara Halim Perdanakusuma juga berstatus sebagai “Escape Route”  Kepala Negara bila terjadi situasi genting yang terjadi.

Karena itu, saya sependapat dengan ungkapan dari bapak Prabowo ketika debat kedua kemarin berlangsung, dimana beliau berkata”Infrastruktur untuk rakyat, bukan rakyat untuk infrastruktur”. Nah maka karena itu, mudah-mudahan Bapak Presiden Jokowi beserta Gubernur Jawa Barat, kang Ridwan Kamil, dapat mengkaji lagi rencana penutupan bandara Husein Sastranegara agar tidak terjadi dampak buruk bagi pengembangan wilayah Jawa Barat, khususnya Bandung Raya kedepannya dan  terhindar dari kesan “dipaksakan”. Dengan perencanaan yang tepat, kedua bandara tersebut bisa hidup tanpa mematikan bandara lain, bisa saling berbagi peran untuk mengisi kebutuhan transportasi udara di daerah Jawa bagian barat, dan juga  untuk mengakomodir kepentingan seluruh pengguna transportasi  udara, khususnya bagi masyarakat Jawa Barat dan Indonesia.

Penulis : Prasta Kusuma, S.IP

Alumni Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD